Pages

Kamis, 23 November 2017

Menikmati Gurihnya Ombus-Ombus


Ombus-ombus, si ‘piramida imut’ berwarna putih berbalut daun pisang menjadi salah satu dari sekian banyak makanan tradisional yang ada di Sumatera Utara. Keberadaannya memperkaya kekayaan kuliner nusantara. Makanan khas Batak ini dapat dijumpai di kota Medan.

Medan, yang dikenal dengan surga kuliner seolah tidak pernah kehabisan stock makanan yang cita rasanya memanjakan lidah siapa pun yang mencicipinya.

Saya yakin, banyak dari kita (apalagi yang dari luar Sumut) yang belum mengetahui ombus-ombus. Jajanan khas Batak ini dibuat dari tepung beras yang diberi gula merah ditengahnya dan dibungkus dengan daun pisang. Bentuknya yang seperti piramida semakin membuatnya terlihat eksotik.

Dahulu jajanan ini biasanya dijual di warung pinggir jalan. Sayang, kini keberadaannya tak lagi seperti dulu. Masih ada, tapi tak banyak. Kini tak semua warung pinggir jalan menjual ombus-ombus. Jika ingin menikmatinya, kita kudu berburu di pajak-pajak.

Eh, asal tau aja kelen ya.... di Medan pajak itu maksudnya pasar. ^^

Minggu, 19 November 2017

Menguatkan [kembali] Komitmen Menulis


Masih hangat dalam ingatan satu tahun yang lalu ketika mengupgrade blog. Dari yang semula memakai domain gratisan berubah memakai domain berbayar plus sedikit perubahan pada tampilan blog agar terlihat eye catching.

Penyegaran blog membawa semangat baru dalam menulis. “Sayang rasanya kalau udah membeli domain tapi blog dibiarkan,” begitulah kira-kira bisikan dari hati. Alhamdulillah, semangat menulis mulai konstan hingga secara berkala rutin memposting tulisan baru.

Seolah sudah menjadi kodrat manusia yang terlihat lemah jika sendiri. Perlahan semangat untuk terus menulis mulai menurun. Ibarat api yang tersiram rintik hujan. Tak deras, tetapi memadamkan. Imbasnya, dalam rentang 3 bulan lebih praktis blog terbengkalai. Beruntung, aktivitas jualan online membantu ‘gairah’ menulis tetap ada.

Sabtu, 19 Agustus 2017

Karena Aku Bukanlah Kamu...


"Bercanda Hanya Bumbu Komunikasi"

Bercanda, menjadi salah satu aktifitas yang teramat sering dilakukan jamaah manusia. Ia menjadi unsur penting dalam berkomunikasi, ice breaking yang mujarab. Tak jarang suasana menjadi cair dan hangat ketika ada canda.

Adakah yang salah dengan canda?

Tidak ada yang salah dengan canda! Bahkan Rasulullah saja sesekali bercanda dengan para sahabat. Ada kisah menarik terkait bercanda ala Rasulullah SAW.

Suatu ketika ada seorang nenek tua mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah pada Allah agar Dia memasukkanku ke dalam Surga.”

Baginda Rasulullah pun menjawab, “Wahai Ummu Fulan, Surga tak mungkin dimasuki oleh nenek tua.”

Mendengar jawaban tersebut, nenek tua itu pun berlalu sambil menangis. Melihat hal ini, Rasulullah pun berseru, “Kabarilah dia bahwa Surga tidaklah mungkin dimasuki dia sedangkan Ia dalam keadaan tua. Karena Allah Ta’ala berfirman : Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (QS. Al Waqi’ah: 35-37). -- HR. Tirmidzi --  (dikutip dari rumaysho.com)

Jadi, di Surga penghuninya tidak ada yang sudah tua. Karena semua pada saat itu kembali muda. ^^

Jadi jangan ragu untuk bercanda kawan! Heuheu.....

Sabtu, 12 Agustus 2017

MengUPDATE Cinta





"Bukan Bagaimana Jatuh Cinta, Tapi Bagaimana Bangun Cinta" 
Pria muda itu tertunduk lesu, memandang bingkai foto pernikahan yang hancur akibat lemparan ke dinding. Miss komunikasi dengan sang istri, membuyarkan ketenangan di sore yang seharusnya romantis itu. 

Berawal dari candaan AYLA VIEW yang lagi ngehits belakangan ini, bunga-bunga romantisme berganti dengan tandusnya kemarahan. Hal ini pun akhirnya berlarut-larut, hingga komunikasi keduanya pun menjadi hambar dan berakhir pada mengungkit kekurangan masing-masing.

Begitulah.....

Rumah tangga dan konflik ibarat dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketika proses Ijab Qabul telah terlaksana dengan sukses, bukan berarti segala permasalahan telah usai. Justru hal itu menandakan babak baru yang akan dimulai.

Konflik dapat menjadi ‘racun’ bagi kelanggengan sebuah rumah tangga, manakala dianggap sebagai hal yang harus dihindari [bahkan dihilangkan]. Akan tetapi, ia justru dapat menjadi ‘pemanis’ ketika ada kesiapan dalam menghadapinya. Kesiapan tersebut bernama kedewasaan. 

Sikap dewasa dalam mengelola rumah tangga mutlak diperlukan. Sebab kedewasaan dalam mengelola setiap konflik yang muncul akan menghadirkan sikap positif dalam menghadapinya. Sehingga menjadikan konflik sebagai sarana pendewasaan diri.

Toh, setiap permasalahan tentu ada solusi yang menyertainya. 

Lalu bagaimana cara agar rumah tangga tetap aman tanpa takut dibayangi oleh pertengkaran yang dapat berakibat perpisahan ketika muncul konflik didalamnya?

Senin, 08 Mei 2017

Celah Hati.....


Pria yang tak muda lagi itu duduk berselonjor di pojok rumah. Tangan keriput yang masih mengguratkan otot itu perlahan mulai menggerakkan jarinya di senar gitar yang juga mulai terlihat kusam. Jreengg..... Jreengg.....

“Suatu hari....
Dikala duduk di tepi pantai
Dan memandang ombak di lautan yang mulai menepi
.....”


Keasikannya berdendang tak terganggu dengan kedatangan remaja tanggung yang langsung nyerocos begitu duduk disamping.

“Wuiihh.....Pande juga Bapak main gitar. Aku aja belajar gak bisa-bisa.”

Bukannya menjawab, Sosok tua itu justru berkata, “Kue ngerti orah, kepiye carane simbokmu iku tresno karo Bapakmu iki?”

Melihat gelengan kepala si remaja tanggung yang kini tampak memasang mimik serius, si Bapak menghentikan permainan gitar dan menggantinya dengan sebuah cerita.

Bagi remaja tanggung, cerita itu ibarat permata yang menyembul dibalik tebalnya lapisan tanah yang menimbunnya. Sepenggal kisah romantis si Bapak dengan istrinya.

“Bapak dulu sering duduk-duduk di depan rumah Ibu. Kamu tahu, Ibumu iku ora open tenan sama Bapak. Kalo dipanggil gak pernah nyahut. Jadi Bapak sering main gitar. Ehh... ndalalah Ibu kok lama-lama kepincut.”

Selasa, 21 Maret 2017

Tips Menjadi Pusat Perhatian

Tips Menjadi Pusat Perhatian

Abror.win – Kita selalu berusaha mencari tips menjadi pusatperhatian di kelas ketika mengajar, agar materi yang diajarkan dapat dimengerti oleh siswa dengan baik. Mengapa penting menjadi pusat perhatian? Ketika semua perhatian tertuju pada satu titik [guru yang sedang mengajar di kelas], maka peluang terserapnya materi yang diajarkan akan semakin besar pula. Hal ini tentu menghindarkan para guru menjadi radio rusak.

Kamu tahu kan gimana radio rusak itu? Ketika tuning tak lagi menangkap siaran dengan maksimal, maka suara yang dihasilkan hanyalah bunyi kresek-kresek yang menyakitkan telinga. Bisa dipastikan tak ada yang mau mendengarkan, walau volume radio sudah maksimal. Ga enak kan ya, suara habis ngejelasin materi di kelas tapi sebagian besar murid justru asik dengan dunianya sendiri. Hiks....

Terkadang tak habis pikir jika menyaksikan guru menyampaikan materi pelajaran di kelas, tetapi masih ada siswa yang ngobrol di kursi. Atau terkadang dengan santai duduk di luar kelas. Padahal pelajaran di dalam kelas sudah berlangsung. Lalu, dimana letak kesalahannya? Murid yang tak ingin belajar atau guru yang kurang peduli?

Selasa, 14 Maret 2017

Botol Setengah Isi


Abror.win – Salah satu kebiasaan yang kerap saya lakukan setiap kali pergi ngantor adalah membawa bekal makan, tak lupa minum dengan botol setengah isi. Disimpan dalam salah satu ruangan di lantai 3 yang ada pada ransel polo yang setia menemani membawa aneka benda. Laa... emang ada gitu ransel bertingkat? Hehehe..... maksudnya salah satu space di ransel.

Kok nanggung sih Mas, bawa minum kagak diisi penuh..... Sebenarnya mah itu hanya trik aja, biar ransel tidak terasa berat. Terasa juga lho bawa botol minum satu liter yang diisi penuh.  Selain itu, ada alasan lain [yang lebih penting] dari sekedar meringankan barang bawaan.

Ketika sampai di kantor, hal pertama yang saya lakukan yaa... sarapan dulu. Wong dari rumah belum ada makan. Kebayang kan ya, setelah makan terus minum dan langsung kandas aja air di botol. Untuk mengisi kembali, saya harus mengisinya dari galon air yang ada di kantor atau di ruangan lain. Nah.... ketika mengisi botol inilah kesempatan saya menyapa rekan-rekan kerja atau sekedar menowel pipi anak-anak yang lucu nan imut.
 
saling sapa

Ada kebahagiaan tersendiri ketika mengawali hari mengobrol dengan orang lain, bertanya kabar atau hanya sekedar say hello. Mengetahui kabar orang lain seakan memenuhi kebutuhan ‘kekepoan’ saya. Maklumlah, manusia itu ditakdirkan memiliki rasa keingintahuan yang tinggi terhadap sesuatu. Bersyukur kita jika rasa keingintahuan itu kita salurkan pada hal-hal yang positif. Bukan menjadikannya jadi ajang bergosip ria.

Pentingkah Saling Sapa?

Kata om Aristoteles sih kita itu adalah makhluk sosial. Bahasa kerennya mah zoon politicon. Simpelnya, kita ini makhluk yang tidak bisa hidup tanpa ada orang lain. Jadi bermasyarakat, berinteraksi jadi kebutuhan pokok kita yang kudu dipenuhi. Pernah ngebayangin gak sih, hidup di tengah hutan sendirian tanpa ada kawan. Hihihi.... yang ada jadi kacau kita. Kacau fisik maupun mental.

Itulah hikmah Allah menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini dengan saling berpasangan (Q.S. Al-Hujuraat : 13). Ketika kita saling mengenal satu sama lain, akan ada side effect yang kita rasakan. Dipastikan akan memunculkan suasana kompetisi. Dalam Surah Al-Hujurrat ayat 13 disebutkan “sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.....” Jelas kompetisi itu adalah berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan.

Selain itu, ada segudang manfaat yang kita rasakan ketika saling bertegur sapa. ‘Menciptakan suasana harmonis penuh keakraban, meningkatkan rasa kekeluargaan, mempererat persaudaraan, terjalin silaturrahim dan mengikis perilaku individualisme’, adalah beberapa hal yang dapat kita rasakan dari saling sapa.


Lagipula dengan menyapa orang lain dan memberikan sebaris senyuman, akan menciptakan suasana menyenangkan. Rasa nyaman tentu akan tercipta. Ketika orang lain merasa nyaman ketika berada didekat kita, maka akan terbuka kedekatan satu sama lain. Maka akan terbuka peluang untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan. Kok bisa? Yup....ketika kenyamanan melingkupi dua orang atau lebih, maka obrolan lebih mengalir. Bisa jadi dari obrolan tersebut kita menangkap ada kegalauan yang sedang melanda.

Ketika itulah peluang untuk saling membantu menghampiri. Bukankah Rasulullah menjanjikan, barang siapa memudahkan urusan orang lain maka Allah akan mudahkan urusannya kelak di akhirat.

Hayuukk..... isi lagi botol minum yang udah kosong. Eh, maksudnya ayo saling menyapa. ^^

Sahabatmu,

Rahmad Al-Abror