Pages

Selasa, 21 Maret 2017

Tips Menjadi Pusat Perhatian

Tips Menjadi Pusat Perhatian

Abror.win – Kita selalu berusaha mencari tips menjadi pusatperhatian di kelas ketika mengajar, agar materi yang diajarkan dapat dimengerti oleh siswa dengan baik. Mengapa penting menjadi pusat perhatian? Ketika semua perhatian tertuju pada satu titik [guru yang sedang mengajar di kelas], maka peluang terserapnya materi yang diajarkan akan semakin besar pula. Hal ini tentu menghindarkan para guru menjadi radio rusak.

Kamu tahu kan gimana radio rusak itu? Ketika tuning tak lagi menangkap siaran dengan maksimal, maka suara yang dihasilkan hanyalah bunyi kresek-kresek yang menyakitkan telinga. Bisa dipastikan tak ada yang mau mendengarkan, walau volume radio sudah maksimal. Ga enak kan ya, suara habis ngejelasin materi di kelas tapi sebagian besar murid justru asik dengan dunianya sendiri. Hiks....

Terkadang tak habis pikir jika menyaksikan guru menyampaikan materi pelajaran di kelas, tetapi masih ada siswa yang ngobrol di kursi. Atau terkadang dengan santai duduk di luar kelas. Padahal pelajaran di dalam kelas sudah berlangsung. Lalu, dimana letak kesalahannya? Murid yang tak ingin belajar atau guru yang kurang peduli?

Selasa, 14 Maret 2017

Botol Setengah Isi


Abror.win – Salah satu kebiasaan yang kerap saya lakukan setiap kali pergi ngantor adalah membawa bekal makan, tak lupa minum dengan botol setengah isi. Disimpan dalam salah satu ruangan di lantai 3 yang ada pada ransel polo yang setia menemani membawa aneka benda. Laa... emang ada gitu ransel bertingkat? Hehehe..... maksudnya salah satu space di ransel.

Kok nanggung sih Mas, bawa minum kagak diisi penuh..... Sebenarnya mah itu hanya trik aja, biar ransel tidak terasa berat. Terasa juga lho bawa botol minum satu liter yang diisi penuh.  Selain itu, ada alasan lain [yang lebih penting] dari sekedar meringankan barang bawaan.

Ketika sampai di kantor, hal pertama yang saya lakukan yaa... sarapan dulu. Wong dari rumah belum ada makan. Kebayang kan ya, setelah makan terus minum dan langsung kandas aja air di botol. Untuk mengisi kembali, saya harus mengisinya dari galon air yang ada di kantor atau di ruangan lain. Nah.... ketika mengisi botol inilah kesempatan saya menyapa rekan-rekan kerja atau sekedar menowel pipi anak-anak yang lucu nan imut.
 
saling sapa

Ada kebahagiaan tersendiri ketika mengawali hari mengobrol dengan orang lain, bertanya kabar atau hanya sekedar say hello. Mengetahui kabar orang lain seakan memenuhi kebutuhan ‘kekepoan’ saya. Maklumlah, manusia itu ditakdirkan memiliki rasa keingintahuan yang tinggi terhadap sesuatu. Bersyukur kita jika rasa keingintahuan itu kita salurkan pada hal-hal yang positif. Bukan menjadikannya jadi ajang bergosip ria.

Pentingkah Saling Sapa?

Kata om Aristoteles sih kita itu adalah makhluk sosial. Bahasa kerennya mah zoon politicon. Simpelnya, kita ini makhluk yang tidak bisa hidup tanpa ada orang lain. Jadi bermasyarakat, berinteraksi jadi kebutuhan pokok kita yang kudu dipenuhi. Pernah ngebayangin gak sih, hidup di tengah hutan sendirian tanpa ada kawan. Hihihi.... yang ada jadi kacau kita. Kacau fisik maupun mental.

Itulah hikmah Allah menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini dengan saling berpasangan (Q.S. Al-Hujuraat : 13). Ketika kita saling mengenal satu sama lain, akan ada side effect yang kita rasakan. Dipastikan akan memunculkan suasana kompetisi. Dalam Surah Al-Hujurrat ayat 13 disebutkan “sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.....” Jelas kompetisi itu adalah berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan.

Selain itu, ada segudang manfaat yang kita rasakan ketika saling bertegur sapa. ‘Menciptakan suasana harmonis penuh keakraban, meningkatkan rasa kekeluargaan, mempererat persaudaraan, terjalin silaturrahim dan mengikis perilaku individualisme’, adalah beberapa hal yang dapat kita rasakan dari saling sapa.


Lagipula dengan menyapa orang lain dan memberikan sebaris senyuman, akan menciptakan suasana menyenangkan. Rasa nyaman tentu akan tercipta. Ketika orang lain merasa nyaman ketika berada didekat kita, maka akan terbuka kedekatan satu sama lain. Maka akan terbuka peluang untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan. Kok bisa? Yup....ketika kenyamanan melingkupi dua orang atau lebih, maka obrolan lebih mengalir. Bisa jadi dari obrolan tersebut kita menangkap ada kegalauan yang sedang melanda.

Ketika itulah peluang untuk saling membantu menghampiri. Bukankah Rasulullah menjanjikan, barang siapa memudahkan urusan orang lain maka Allah akan mudahkan urusannya kelak di akhirat.

Hayuukk..... isi lagi botol minum yang udah kosong. Eh, maksudnya ayo saling menyapa. ^^

Sahabatmu,

Rahmad Al-Abror

Senin, 27 Februari 2017

Menyatukan Perbedaan







Menyatukan Perbedaan – Menikah adalah arena pertarungan ‘sebenarnya’ dalam mengelola perbedaan antara dua insan manusia. Perbedaan yang telah ada menjadi tugas bersama untuk dikelola dengan baik. Sehingga menjadikannya sebagai penyangga utama keutuhan rumah tangga.

Bayangkan ketika memutuskan mengakhiri masa lajang, untuk kemudian menyunting/disunting pendamping hidup tetapi tidak siap dengan perbedaan-perbedaan yang akan menyapa. Bahtera rumah tangga yang seharusnya mendatangkan rasa aman, tentram dan damai, justru menjadi ladang pelampiasan kekesalan. 


Lalu, untuk apa ada perbedaan jika itu hanya mendatangkan keburukan? Sejatinya perbedaan adalah salah satu unsur penciptaan alam semesta. Lihatlah bagaimana Allah mempergilirkan siang dan malam, penciptaan langit diiikuti dengan penciptaan bumi (Al-Baqarah:164). 


Jadi perbedaan bukan mendatangkan keburukan. Justru didalamnya terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya. Oleh karena itu sangat penting sekali berbaik sangka dalam setiap keadaan. Karena hal itu akan mendekatkan kita pada kebenaran. 


Senin, 23 Januari 2017

Asyiknya Bermain


"Ketika kita ada untuk mereka, maka kelak (pun) mereka ada untuk kita"

Asyiknya bermain. Begitulah komentar anak-anak jika ditanyakan kesukaannya akan sesuatu hal. Bagi pandangan kita selaku orang dewasa, aktifitas bermain itu cenderung melelahkan dan mendatangkan rasa capek. Tetapi coba tanyakan kepada anak-anak, tidak akan muncul kata capek atau lelah saat bermain. Begitulah dunia anak-anak. Dunia penuh keceriaan, yang diisi dengan bermain dimana pun ia berada.

Hal ini perlu diingat oleh mereka para calon orang tua atau orang tua yang sedang memiliki anak-anak usia 1-6 tahun. Dalam rentang usia ini, aktifitas bermain menjadi sangat penting bagi mereka. Karena salah satu faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak adalah bermain. Jadi jangan kekang anak ketika mereka selalu ingin bermain.

Permasalahan yang timbul sebenarnya bukan aktifitas bermain itu sendiri, tetapi sikap para orang tua dalam menghadapinya. Kesal, lelah, emosi, ketika melihat kondisi rumah yang acak-acakan bak kapal pecah. Ada tips sederhana agar para orang tua ‘menikmati’ kondisi rumahnya yang berantakan. Sehingga tak mengganggu keasyikan bermain anak-anak.

Coba tenangkan sejenak dirimu. Geser sedikit [iyaaa....sedikit aja, kagak banyak-banyak kok] mindset kita. Samakan persepsi kita dengan persepsi yang dimiliki anak. Sehingga kecenderungan untuk meluapkan energi negatif (marah-marah, kesal, cemberut, geram) akan berkurang, bahkan kemudian hilang sama sekali. Mengapa kita harus menyamakan persepsi?

Minggu, 15 Januari 2017

Kompor Meleduk


"Disaat apapun, barokah itu membawa kehagiaan."

Salah satu pertanyaan yang menggelitik jamaah jombloiyah adalah “udah nikah? Kapan lagi?” dan seabreg pertanyaan lain yang terkadang bikin keki. Heuheu...

Keki? Ya iyalah, emangnya nikah itu semudah membeli gorengan di pinggir jalan. Butuh persiapan matang tau.. (tenang dach mblo, kali ini elu guwa belain). Saya juga pernah merasa jengah, ketika diberondong pertanyaan yang mempertanyakan kesiapan menikah. Bahkan pernah menghindar dari seseorang, sebab setiap kali ketemu pertanyaan pembuka ya itu tadi.

Tapi tahukah kawan, ternyata dibalik pertanyaan yang kita anggap menjengkelkan terdapat selaksa doa agar jodoh segera menyapa. Terdapat keinginan mendalam melihat saudaranya bersanding di pelaminan bersama sang pujaan hati. Gaya pertanyaan yang cenderung ngebully sebenarnya agar kita juga segera mempersiapkan diri. Tak hanya sekedar pasif menunggu, berleha-leha atau sekedar berfoya-foya, tetapi berikhtiar menjemput jodoh yang telah ditetapkan-Nya.

Rabu, 11 Januari 2017

Mengapa Harus Menulis?


"Merekam Jejak Melalui Untaian Kata"

Mengapa harus menulis? Pertanyaan klise tiap kali seseorang menanyakan padaku aktifitas sehari-hari. Ntah kekuatan dari mana, muncul rasa percaya diri menyebutkan salah satu aktifitas yang kini rutin dilakukan adalah menulis. Disamping rutinitas mengajar di sekolah dasar dan menjadi kurir barang di BagshoesQ (toko yang menjual tas, sandal dan sepatu milik kami sendiri). Dan sudah dapat ditebak pertanyaan berikutnya adalah, sudah berapa buku yang ditulis.

Pertanyaan yang kini menjadi bahan bakar semangat untuk terus melanjutkan naskah buku yang tak kunjung usai. Parameter menjadi penulis salah satunya adalah berhasil menerbitkan buku. Walaupun di era digital saat ini, banyak media untuk penulis mengekspresikan ide dan gagasannya.

Hobi menulis sebenarnya telah saya lakoni semenjak duduk di bangku sd. Bagi teman-teman yang lahir di era 80’ dan 90’an tentu masih ingat bagaimana guru kita sering mendikte, atau mencatat buku pelajaran yang sukses membuat kita mengibaskan tangan karena pegal. Catat Buku Sampai Abis (CBSA), begitu kita sering menyebutnya. Sebanyak apapun catatan yang diberikan, saya selalu semangat untuk menulisnya. Aneh ya......^^

Senin, 09 Januari 2017

Kemilau Hati


"Mencintai Sewajarnya, Membenci Sekedarnya"

Agenda wajib yang sering kami lakukan di akhir pekan adalah ‘memenuhi undangan’. Entah itu undangan walimahan, khitanan, atau aqiqah. Tak setiap minggu, tetapi dalam sebulan setidaknya 2 sampai 3 undangan nyasar [atau sengaja disasarkan] ke tangan kami. Seperti halnya hari Minggu kemarin.

Pergi ketika matahari perlahan mulai kembali ke peraduannya. Karena jarak tempat acara lumayan jauh dari rumah, ketika dalam perjalanan pulang kami harus singgah ke Masjid untuk menunaikan shalat Magrib. Tak ada istimewa sebenarnya. Hanya duo krucil yang tumben anteng menikmati kolam ikan yang ada disamping Masjid.

Sampai ketika sedang mengenakan sepatu, terlihat olehku tiga orang wanita muda dengan  pakaian modis nan ketat ala anak gaul melintas di depanku memasuki honda freen yang terpakir tak jauh dari motor yang kami kendarai. Belum juga mereka hilang dari pandangan, istri menghampiri dan berbisik, “Liat mas, pakaiannya sih ketat. Tapi mereka tadi ikut shalat juga tuh.” Surprise? Jelas kawan.....!!