Pages

Sabtu, 14 November 2015

MENINGGALKAN JEJAK


Ini bukanlah lagu baru di blantika musik Indonesia. Ini juga bukan lagu tandingan dari lagu Noah (dulu Peterpen) yang berjudul Menghapus Jejakmu yang dirilis pada tahun 2007. Ini juga bukan program reality show di televisi. But....
This is all about me. Yup, tentang saya ^^

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengabadikan momen yang terjadi dalam kehidupannya. Pada umumnya, cara simple untuk mengabadikannya adalah dalam bentuk foto. Apalagi di era digital saat ini, yang segala kemudahan dalam banyak hal tidak sulit untuk dilakukan dan didapatkan. Setidaknya hampir setiap orang memiliki gadget yang dibekali dengan fitur kamera. Hingga mengambil gambar dari setiap peristiwa semudah membalik telapak tangan. Bahkan anak balita pun sudah mampu mengoperasikan kamera yang ada pada handphone.

Tetapi bagi generasi 80-an, cara berbeda dilakukan untuk mengabadikan momen-momen tersebut. Pada masa itu, kamera hanya dimiliki oleh segelintir orang dan bukan pula kamera dalam bentuk digital seperti saat ini. Saya masih ingat, waktu kecil di foto hanya pada saat-saat tertentu. Saat hari lebaran dan saat akan lulus dari bangku Sekolah Dasar.
“Besok pakai baju yang rapi ya, dasi jangan lupa dipakai juga. Rambut disisir”
Masih ingatkah saat SD guru kita berkata demikian ?
Yup.... momen saat difoto untuk keperluan ujian kelulusan dan ijazah
Bagi yang lahir di era tersebut (termasuk saya ^_^) punya cara tersendiri untuk mengabadikan momen-momen terindah yang dilaluinya. Konon lagi saat berada di bangku sekolah.

Saat SMP, hampir dipastikan setiap siswa memiliki satu “Buku Sakti”. Mengapa dikatakan sakti ? Ya karena dalam buku tersebut tertulis biodata teman sekolah dengan lengkap. Apalagi teman sekelas, haram rasanya kalau biodata kita tak ada dibuku kecilnya. Ternyata kebiasaan ini terbawa hingga saya menginjak bangku SMA. Jika sebelumnya buku kecil (yang populer disebut buku diary) hanya berisi biodata teman, maka bertambah dengan catatan kecil peristiwa yang terjadi di sekolah. Hingga saat saya menemukan sebuah diary kecil bersampul hijau tergeletak di sudut lemari pakaian di rumah. Buku kecil “bekas” diary milik kakak yang ternyata masih banyak lembarannya yang kosong.
Dari sini saya mulai membiasakan untuk menuliskan segala aktifitas dan peristiwa yang saya alami kedalam buku tersebut. Masih segar dalam ingatan saya saat mulai menulis di buku diary di tahun 2002, saat menginjak kelas XI SMA.

Hingga kini buku diary tersebut masih ada dan masih setia menemani saya. Bedanya, jika dahulu sering ditulis, sekarang sering dibaca. Ada sensasi tersendiri saat kembali membaca lembar demi lembar. Seolah didepan mata melihat tayangan slide dari setiap peristiwa yang saya tulis di buku diary. Imajinasi lebih bergerak bebas ketimbang melihat foto-foto teman sekolah. Hal yang sama saya rasakan saat membaca cerita  novel. Cerita yang terangkai  dari ribuan kata mampu membuat imajinasi bergerak dengan leluasa.

Saat membaca novel karya Kang Abik yang berjudul Ayat-Ayat Cinta misalnya. Walau tak pernah mengunjungi Mesir, seolah berada di tengah kota Mesir merasakan panasnya matahari yang membakar. Tak heran saat novel ini diangkat ke layar lebar, antusiasme masyarakat sangat besar. Karena penasaran dengan penggambarannya di film. Walau menyisakan kekecewaan di hati banyak penonton (saya salah satunya) karena apa yang ditonton tak seperti apa yang dikhayalkan ketika membaca novelnya.  

Menginjak bangku perkuliahan, kebiasaan menulis sempat terendap. Tak lagi sempat menulis di buku diary. Hingga saya mulai mengenal dunia blogging di tahun 2007. Sampai blog yang dibuat selesai, saya masih belum memiliki visi dalam menulis. Semua konten yang saya upload semata hanya untuk mengisi waktu luang semata. Porsi terbanyak justru tersita oleh aktivitas gonta-ganti templete. Seiring berjalannya waktu, blog pun terbengkalai.

Hingga di awal tahun 2015, hati ini mulai tergelitik kembali untuk menulis. Berawal dari status seorang teman di facebook yang mengatakan bahwa menulis merupakan sarana untuk melejitkan potensi kebaikan. Sadaqah Intelegence katanya. Barulah hati ini tergerak kembali menulis. Blog yang telah lama vakum, sampai saya lupa id dan passwordnya kembali aktif dan menjadi sarana untuk menulis. Konsistensi menulis pun mulai terjaga (walau belum maksimal ^^) saat bergabung dalam komunitas menulis di Whatsapp. Ya.... dari group ini semangat saya kembali hidup. Aktifitas share link tulisan yang menjadi setoran wajib setiap bulannya, pembahasan ringan seputar dunia kepenulisan melalui cara-cara yang fun, seperti mengadakan lomba menulis dengan beragam hadiah (yang datangnya juga dari sesama anggota group), mengadakan cerita estafet (satu orang membuka cerita kemudian disambung oleh yang lain), turut membantu menghidupkan kembali kebiasaan menulis saya. Dari group inilah yang pada akhirnya mengantarkan saya menjadi member di Komunitas Menulis Online.

Kini.... Dengan semakin bertambahnya usia, saya ingin ‘sedikit’ mengambil peran dalam proses penyebaran kebaikan. Saya membayangkan, tulisan yang pernah dibuat turut mengambil peran dalam proses perubahan seseorang menuju kebaikan.

Di salah satu kisah hikmah pernah diceritakan, kelak di Yaumul Hisab ada seorang hamba yang ditimbang amal ibadahnya kaget melihat begitu banyaknya pahala kebaikan yang diterima. Padahal ia merasa tak pernah berbuat baik sebanyak itu. Ternyata, pahala kebaikannya diperoleh dari ilmu yang diajarkannya kepada seseorang dan ilmu tersebut terus diajarkan oleh si penerima kepada orang lain. Kita menyebutnya dengan Multi Level Kebaikan.
Subhanallah !!

Khairunnas anfa uhum linnas.....
Sebaik-baik manusia adalah yang bemanfaat untuk orang lain”.
Begitulah Rasulullah SAW menggambarkan sosok manusia terbaik. Menginspirasi orang lain melalui tulisan, tentu saja saya termotivasi untuk melakukannya. Dengan segala kekurangan yang ada, saya ingin berbagi kebaikan lewat tulisan. Hingga kelak ketika telah meninggal, tulisan saya masih bisa menginspirasi orang lain untuk berbuat baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar