Pages

Selasa, 17 November 2015

THE POWER OF "SUMUR"

Syahdan.......

Diawal hijrah kaum muslim ke Madinah, kesulitan masih menyertai perjalanan mereka. Setelah lepas dari tekanan kaum quraisy Mekkah, ada kesulitan lain yang menanti mereka.

What is that ??

Yup.... Kebutuhan akan air jernih. Apalagi kaum muslim saat itu terbiasa dengan mengkonsumsi air Zamzam di Mekkah. Sebenarnya bukan air yang sulit ditemukan. Tetapi pada saat itu, sumur dengan air melimpah justru dimiliki oleh seorang Yahudi. Dan mereka harus membelinya dengan harga yang tidak murah. Mendengar umatnya kesulitan memperoleh air jernih, maka Rasulullah SAW mendatangi si pemilik sumur dan memberikan penawaran padanya. Sebagai pengganti sumur, Rasulullah SAW menawarkan sebidang kebun yang luas. Tetapi Yahudi tersebut menolaknya, dengan alasan ia hanya menerima jual beli dalam bentuk uang tunai.

Mendengar hal ini, maka Usman bin Affan mendatangi pemilik sumur dan menawarkan untuk membeli sumur. Namun pemilik sumur menolak tawaran tersebut. Ia justru menawarkan kepada Usman untuk membeli setengah air di sumur atau menyewanya. Usman pun memutuskan untuk membeli setengah air di sumur.

Pembagian “setengah” disini artinya, Usman dan pemilik sumur bergantian mengkonsumsi air. Hari ini jatah Usman maka esok hari jatah pemilik sumur. Begitu seterusnya. Kemudian Usman mewakafkan jatah pembagian airnya kepada kaum muslim. Ternyata kaum muslim mengambil air hanya di hari jatah Usman. Hingga pada akhirnya tidak ada lagi yang membeli air kepada pemilik sumur dan membuatnya rugi. Sehingga ia pun menjual seluruh sumur tersebut kepada Usman. 

Singkat cerita, pada masa-masa berikutnya Usman bin Affan mewakafkan sumur tersebut kepada kaum muslim. Hingga kemudian berkembang, dari sebuah sumur menjadi kebun kurma yang luas. Kebun ini tetap dirawat dengan baik hingga masa Daulah Usmaniyah (Turki Usmani). 

Sahabat....

Pernahkan terpikir oleh kita bahwa harta yang kita miliki tetap bermanfaat saat kita telah meninggal ? tidak hanya untuk keluarga, tetapi juga untuk masyarakat luas ?

Ternyata, harta yang dibingkai dengan sedekah maka ia akan menjadi kran kebaikan yang tak pernah surut. Justru ia semakin melimpah dan menjangkau banyak tempat.

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaanyang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. ash-Shaff: 10-12).


Subhanallah !!
Sedekah tak hanya membantu meringankan beban orang lain, tapi ia juga berbalas Jannah-Nya. 

Lihatlah Usman bin Affan. Khalifah ketiga umat Islam. Dengan hartanya yang berlimpah, ia menjadi salah satu penyokong dakwah Islam. Hingga kini, walaupun sudah meninggal berpuluh abad yang lalu, tapi harta yang diwariskan masih bermanfaat untuk kesejahteraan orang lain. 

Tahukah kamu, apa yang terjadi dengan sumur yang diwakafkannya untuk umat Islam pada masa itu?

Setelah Kerajaan Arab Saudi berdiri, kebun kurma (yang awalnya sumur milik Usman) tetap dirawat dengan baik dibawah naungan Kementerian Pertanian. Hasil dari kebun tersebut setengahnya dibagikan kepada kaum fakir miskin dan setengahnya disimpan di bank dengan rekening atas nama Usman bin Affan. Kini, rekening tersebut dipegang oleh Kementerian Wakaf. Sampai pada akhirnya dapat digunakan untuk membeli sebidang tanah di di kawasan Markaziyah (area eksklusif) dekat Masjid Nabawi. Dari sebidang tanah inilah kemudian dibangun sebuah hotel dan juga mesjid. Dimana nama keduanya diberikan nama yang sama, yaitu Mesjid Usman bin Affan dan Hotel Usman bin Affan.

Kini, hotel Usman bin Affan merupakan salah satu hotel bintang lima yang ada di Madinah. bangunan dengan 210 kamar siap sewa dan 30 kamar khusus yang siap menyambut para wisatawan di Madinah. Hotel itu berdiri gagah setinggi 15 lantai dengan 24 kamar di setiap lantai.


And the last...

Dari kedermawanan Usman bin Affan ra, kita belajar tentang pentingnya menyisihkan sebagian harta kita untuk kepentingan orang lain. Harta yang dimiliki bukanlah 100% milik sendiri. Toh Allah sudah mengingatkan bahwa ada hak orang lain pada harta yang kita miliki. Ia juga menjadi pemacu semangat kita untuk memaksimalkan potensi yang ada dalam usaha meraih ridho-Nya.

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR.Muslim )



5 komentar:

  1. Inspiring om... Kereen ������

    BalasHapus
  2. Bagus tulisannya om, mengingatkan saya tentang ada rejeki orang lain yg dititipkan pada saya. Inspiratif!

    BalasHapus
  3. Inspiratif sekali om..
    Moga kita bisa meneladani utsman..

    BalasHapus
  4. Hatur Tengkiu Mba Dini uda maen dimari...... ^_^

    BalasHapus
  5. Amin... Mba Tuti
    Buaanyaakkk sekali sebenarnya orang-orang yang bisa kita teladani.
    Kalo ada yang bilang "sekarang terjadi krisis kepemimpinan", berarti perlu buka mata buka telinga lagi kali yach...... :)

    BalasHapus