Pages

Sabtu, 26 Desember 2015

RINDU TERSISA DI RUMAH LAMA


Hati ini selalu dibekap rindu manakala ada kesempatan mengunjungi Bapak di kampung. Tak hanya rindu pada sosoknya yang kini menua dan harus tinggal sendiri di rumah yang terasa semakin luas. Tapi rindu akan suasana rumah yang telah menaungi saya semenjak duduk di bangku SMP hingga tamat SMA. Walau kini rupanya telah berganti, selalu saja ada jejak kerinduan yang tertinggal. Rumah sederhana yang dibeli Bapak dari uang pensiunannya dan pada akhirnya harus direnovasi mengingat rumah mungil tersebut terasa sempit manakala anak-anaknya berkumpul di setiap akhir tahun atau ketika lebaran.

Duduk di dekat jendela rumah selalu mengingatkan saya dengan setumpuk novel Wiro Sableng yang siap untuk dibaca dan alunan lagu Sheila On 7. Aktivitas yang senantiasa saya lakukan dulu di setiap libur sekolah. Atau saat berada di dapur rumah, selalu terbayang dengan bunyi tetesan air hujan yang masuk di sela-sela atap yang bocor. Mengiringi obrolan saya dan almarhum Ibu sembari mencomot ubi rebus yang tersaji di meja makan. Semuanya seperti tayangan slide yang melintas manakala saya kembali ke rumah, walaupun segalanya telah berubah.

Apapun kondisi dan suasana rumah kita waktu itu, pasti ada rindu yang tersisa. Itu barangkali yang menjelaskan mengapa kebanyakan orang rela melakukan apa saja untuk bisa kembali ke kampung halamannya, meski untuk waktu yang tidak lama.
Ya..... Rindu yang menggerakkan langkah kita untuk menengok jejak masa lalu, meski untuk sesaat. Bagi kita yang tak pernah kemana-mana, kerinduan itu pastilah juga mengaduk-ngaduk perasaan. Meski sekedar membayangkan kembali kondisi dan suasana rumah yang dulu.

Sejauh apapun kita melangkah kini, jejak masa lalu memang sulit dilupakan. Terutama pada rumah, tempat kita melabuhkan segala lelah. Tempat kita tumbuh bersama orang-orang terdekat. Tempat kita mencari rasa aman dari liarnya cuaca dan gelap malam. Tempat kita memainkan peran, entah sebagai orang tua, anak atau saudara. Tempat kita membangun mimpi-mimpi masa kecil.

Begitu pentingnya peran sebuah rumah. Ia tak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari panas dan hujan. Tapi lebih dari itu, ia turut berperan membentuk karakter kita. Lihat lah Salman Al-Farisi, sahabat yang agung itu pada mulanya tak memiliki rumah. Tempat berteduhnya tak lebih sebuah tempat yang amat sederhana. Bila ia berdiri, kepalanya terantuk. Bila ia tidur, kakinya terjulur keluar. Sampai suatu hari para sahabatnya mendesaknya untuk dibuatkan rumah.biarpun kecil rumah itu memiliki fungsi secara fisik. “Agar engkau bisa berteduh dari panas dan berlindung dari dingin”. Begitu kata para sahabatnya. Hingga akhirnya Salman pun berkenan.

Rumah kita yang dulu tidak sekedar bangunan berbentuk kotak, yang hanya layak dikenang karena kita terlahir atau besar didalamnya. Tapi rumah itu memiliki keunikan, apapun itu. Keunikan yang paling utama adalah pengaruhnya yang besar dalam membentuk diri kita. Luasnya membentuk cara kita memandang kelapangan. Sempitnya membentuk cara kita menyiasati keterbatasan. Riuhnya membentuk cara kita belajar toleransi dan kebersamaan. Dan sepinya membentuk cara kita mengatasi kesendirian. Setiap kita pasti bisa merasakan jejak diri di rumah kita yang dulu.

Seperti apapun rumah kita, ia cermin tentang kita. Maka kita dan rumah kita akan saling memantulkan karakter diri. Seperti apa nilai-nilai yang kita anut di rumah kita, akan sangat mempengaruhi karakter kepribadian kita. Itu sebabnya Rasulullah menasehati agar kita menjadikan rumah kita hidup, dan tak membiarkannya sunyi seperti kuburan. Caranya dengan menghidupkan ibadah-ibadah sunnah di rumah.
“Jadikanlah sebagian dari shalat kalian dilakukan di rumah kalian dan jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rumah kita sangat mungkin lebih besar dari rumah Salman Al-Farisi. Entah seperti apa rumah kita, atau sudah berapa yang kita tinggali, kita pasti bertumbuh dengan cara-cara yang kita dapati di rumah. Maka rumah adalah wajah lain kita, dan kita adalah wajah lain dari rumah kita. Kita rindu rumah bukan semata sebagai house, tetapi sebagai home. Rumah dengan segala aktivitas sosialnya. Sehingga, kerinduan pada rumah kita yang dulu sejatinya merupakan kerinduan kita pada kehidupan itu sendiri.


Inspiring from : Tarbawi Magazines

2 komentar:

  1. Great article! Perbedaan house dan home, apakah perbedaan secara harfiah atau memang ada perbedaan maknya dari keduanya?

    BalasHapus
  2. Rumah.. apalagi rumah orang tua, pasti tempat yang selalu membangkitkan kenangan indah masa kecil. Ingatan saya rumah dikampung kelahiran jadi makin kuat..
    Rumah adalah tempat kita pulang

    BalasHapus