Pages

Selasa, 05 Januari 2016

KETIKA KARYA MENYAPA

Ngomongin tentang impian yang ingin diwujudkan dalam satu waktu, sama saja dengan membahas menu masakan yang ada di restoran atau cafe. Maksudnya butuh waktu yang tidak sebentar. Saya yakin, kita semua memiliki banyak impian yang ingin diwujudkan. Impian yang kemudian dijadikan sebuah resolusi.


Samakah memiliki banyak impian dengan panjang angan-angan? Tidak ....!!
Impian ibarat bahan bakar yang mengantarkan kendaraan terus melaju menuju beberapa titik pemberhentian. Bayangkan jika kita hidup tanpa memiliki impian. Sama halnya dengan mengendarai kendaraan tanpa tujuan.
“Bermimpilah yang banyak. Karena pada hakikatnya mimpi itu akan terbang ke langit dan Tuhan akan memeluknya. Hingga pada saat yang tepat, Ia akan mengembalikan mimpi-mimpi itu”. Petikan dialog dalam novel Laskar Pelangi ini menggambarkan kita harus memiliki impian.

Ditahun ini, ada beberapa impian yang ingin saya wujudkan. Diantaranya yang menjadi prioritas adalah ingin menjadi PENULIS yang karyanya duduk manis di toko-toko buku. Tak hanya duduk manis, tapi menjadi BEST SELLER. Ada banyak alasan mengapa impian ini mendapat prioritas utama.
Mengisi aktifitas sebagai tenaga pendidik ditengah repotnya menjajakan pernak-pernik produk kesehatan dan fashion menambah wawasan saya tentang bagaimana dunia guru itu sebenarnya. Ada dua impian seorang guru pada umumnya, terdaftar sebagai Pegawai Negeri Sipil atau terdaftar sebagai guru bersertifikasi. Tak ada yang salah dengan kedua impian tersebut. Tapi saya melihat sangat sedikit guru yang tertarik dengan dunia kepenulisan. Padahal profesi tersebut menjadi modal menjadi penulis. Interaksi dengan puluhan bahkan ratusan murid dengan beragam karakter tentu menjadikannya ‘ladang ide’ yang tak pernah kering.

Ada beberapa guru yang belum bersertifikasi di sekolah tempat saya mengabdi. Dan saya adalah salah satunya. Latar belakang pendidikan yang tak menempuh jalur kependidikan menjadikannya sandungan. Karena menjadi guru bukan prioritas cita-cita saya, hal tersebut tak menjadi beban. Maka saat beberapa kali kesempatan untuk memperoleh sertifikasi datang dan nama saya tak terdaftar, maka saya have fun saja. Justru hal ini menjadi bahan bakar semangat untuk menempuh ‘jalur sukses’ yang berbeda. Meninggalkan jejak tak hanya sebatas dalam kenangan anak didik tapi untuk semua orang yang membaca karya tulis yang dihasilkan, tentu menjadi faktor penambah semangat lainnya mengapa saya ingin menjadi penulis.

Saya tidak ingin mengatakan menulis adalah sebuah keharusan. Tapi orang-orang besar di dunia sastra mengatakan demikian. Lihatlah Asma Nadia, yang telah menelurkan puluhan karyanya dalam bentuk buku. Beliau pernah mengatakan “Menulislah minimal satu buku sebelum kita meninggal”. Atau Ippho Santosa, yang mengatakan “Kata-kata menguap tulisan mengendap”. Artinya tulisan lebih panjang umur dari usia kita sendiri.
Dari kata-kata mereka, rasanya kok makjleb. Ingat kata-kata teman yang pernah mengingatkan :
  •  Menulislah untuk orang-orang yang kita cintai. Bisa untuk orang tua, istri atau anak kita
  • Menulislah agar dunia tahu bahwa kita pernah hidup didunia ini
  • Menulislah untuk sebuah kebaikan bagi kita dan orang disekitar kita.
  • Menulislah, karena tulisan kita bukan hanya menjadi PASSIVE INCOME saja, tapi juga PASSIVE PAHALA
  • Menulislah, minimal untuk mengatakan kepada orang tua kita bahwa “Bapak dan Ibu tidak sia-sia melahirkan dan membesarkan saya di muka bumi”


Lalu, kapan menghasilkan sebuah buku? April menjadi target bahwa buku yang saya tulis diterbitkan oleh penerbit mayor dan duduk manis di rak-rak toko buku berdampingan dengan karya penulis top lainnya.
Mungkinkah tercapai? Saat sebuah tekad telah ditetapkan, maka ikhtiar-ikhtiar terbaik akan dilakukan. Selanjutnya, serahkan semua kepada Sang Pencipta.

4 komentar:

Posting Komentar