Pages

Sabtu, 05 Maret 2016

BeKa *


Masih segar dalam ingatan, dipertengahan tahun 2008 saat pertama kali aku melihat kamu. Dalam hitungan detik, kamu telah mencuri perhatianku. Tak hanya penampilanmu yang membuat mataku tak lepas memperhatikan kamu. Padahal suasana saat itu malam tanpa bertabur bintang. Kebetulan kamu berjalan dengan seseorang yang juga aku kenal. Dari dialah kita berkenalan. Sejenak bercengkerama denganmu, membuat debar jantungku kian menderu serasa waktu tak ingin berlalu.
Sebulan semenjak kita pertama kali bertemu, semua seakan terbang laksana debu. Ternyata takdir berkata lain. Emang bener apa yang dikatakan orang, kalau udah jodoh takkan kemana. Hingga akhirnya kamu halal bagiku. Kamu tahu, semenjak engkau membersamai hari-hariku, semua terasa semakin mudah. Waktu seolah berhenti dan jarak seakan tak berjarak. Itu berlangsung selama setahun lamanya. Hingga disaat menghadapi tugas akhir perkuliahan, dengan sangat terpaksa aku melepas kepergianmu. Kepergian yang serasa kehampaan bagiku. Sebab cara perpisahan kita tak pernah terbayangkan sebelumnya olehku. Tapi dengan perpisahan itu pula aku bisa menyelematkan pendidikanku.
Butuh berbulan-bulan bagiku untuk melupakan kamu. Bersyukur aku bukanlah tipe laki-laki mellow. Kesibukan akan tugas akhir kuliah hingga berhasil meraih gelar sarjana turut membantu melepas bayang-bayang kamu dalam ingatanku. Dan..... Ternyata Tuhan lebih memilih kembali mempertemukan kita. Benang yang telah lama putus seolah kembali tersambung. Hatiku semakin berbunga melihatmu semakin ayu. Kamu tahu gak sih, keadaanmu sekarang itu kembali mengaduk-aduk hati dan perasaanku. Alhamdulillah, kita kembali bersatu.
Kebersamaan kita terbilang cukup lama. Banyak suka duka yang kita hadapi bersama. Kemanapun aku pergi, kamu sering menemaniku. Kalau tak pergi dengan teman-temanmu atau kamu sedang sakit, bisa dipastikan kamu selalu ada disampingku. Banyak momen indah yang menggores kenangan atas keberadaanmu bersamaku. Aku masih ingat saat dalam tugas kantor untuk melakukan survey di daerah pedalaman dan mengharuskan aku harus melewati perkebunan kelapa sawit di gelap malam, kamu dengan setia menemaniku. Tak jarang senandungmu mengiringi perjalanan kita menembus gelapnya perkebunan kepala sawit.
Di lain waktu, aku harus menahan tangis  saat melihat kondisimu yang carut marut saat kembali dari petualangan bersama temanmu. Kaki bengkak hingga membuatmu susah untuk berjalan dan kondisi salah satu matamu yang tak lebih baik dari kakimu. Yang membuatku terharu, justru kamu yang menguatkanku. “Aku baik-baik aja koq sayang.... Kamu gak usah khawatir gitu!!”. Begitu kamu membisikkan sebaris kalimat di telingaku.
Hingga dimalam menjelang Ramadhan, beberapa saat sebelum azan Isya berkumandang. Malam yang tak pernah kulupakan hingga saat ini. Berawal dari keinginanmu yang tak mau masuk rumah. “Aku pengen menikmati angin yang semilir ini Say. Kamu makan aja dulu!!” begitu alasanmu. Aku pun larut menikmati makan malam pertama tanpa kamu. Hingga selesai makan, kamu tak kunjung memasuki rumah. Bahkan saat aku berteriak memanggil namamu, kamu juga tak menyahut panggilanku. Dengan dada berdebar aku pun bergegas keluar rumah. Hatiku langsung merasa tak enak melihat pintu pagar yang terbuka lebar. Aku langsung berlari ke samping rumah, dimana kamu duduk santai tadi.
Ya.... Rabb!! Tak ku lihat lagi sosok dirimu. Dengan hati tak menentu, aku langsung berlari menyusuri lorong depan rumah. Hingga ke ujung jalan besar, tak jua kutemukan dirimu. Dengan cepat berita hilangnya dirimu menyebar. Dengan bantuan seorang teman, akupun membuat pengaduan di kantor polisi terdekat. Bergegas pula aku melapor ke perusahaan dimana kamu bekerja. Proses yang berbelit dan memakan waktu yang lama mau tak mau aku jalani. Dan selama itu pula tak juga aku dengar kabar tentangmu. Aku pun harus menahan kesabaran mendengar kabar-kabar miring terkait raibnya dirimu. Dari yang diculik hingga melarikan diri karena tak tahan hidup bersamaku mampir ke telingaku.
Beruntung aku masih memiliki seorang sahabat dekat, sahabat terbaik yang menguatkanku. Berkat bantuannya aku mampu mengatasi itu semua.. Seandainya kita masih bersama terhitung dari hari hilangnya dirimu, 2 bulan kemudian seharusnya kita merayakan 3 tahun kebersamaan kita. Seharusnya kamu juga masih menemani hari-hariku. Tapi.... Ya sudahlah, hidup tetap harus berputar. Aku tak ingin terpuruk dan tak move on dari kesedihanku.

Mungkin ini yang dikatakan buah dari kesabaran. Berselang sebulan semenjak kepergian kamu yang tanpa kabar dan tanpa alasan, Tuhan kembali mempertemukan kita. Penampilan kamu kini jauh berbeda. Jauh lebih ‘berisi’ dengan riasan wajah yang benar-benar berbeda. Tetapi apapun penampilan kamu, tak juga merubah kepribadianmu. Kini aku bisa memiliki kamu dengan seutuhnya. Kamu tak lagi bekerja di perusahaan yang sering menyita kebersamaan kita. Aku berdoa semoga kamu tak lagi pergi meninggalkanku. Kamu ingin tahu rasanya ditinggalkan? Deuuh.....sakit tau!! Untung Cita Citata baru muncul sekarang. Kalau gak, bisa-bisa nyanyi aku. Dan kamu tahu apa yang kini membuat aku semakin bersemangat, iyaa..... karena *Beka (Bersama Kamu) ^___^

**Lomba Artikel KAMU di Writer Ranger

4 komentar:

Posting Komentar