Pages

Sabtu, 05 Maret 2016

KETIKA ANAK BERTINGKAH RAJA


- “Ma.....ambilin minuummm!!”
+ “Laaa.... minumnya kan disebelah kamu loh dek, ambil sendiri napa...”
- “Gak mauuu..... cepet ambilin!!”

Aku hanya bisa tersenyum kecil menyaksikan adegan di depan mata. Hal yang sebenarnya wajar, tapi menjadi tak wajar menurutku. Tak wajar mengingat anak tersebut sudah memasuki usia sekolah. Berbeda jika si anak masih usia balita. Hal tersebut mungkin wajar. Aku katakan ‘mungkin’ karena si anak tetap bisa diajarkan mengambil minuman sendiri.
Lalu jika anak sudah terbiasa memerintah, apakah hal ini dibiarkan saja? Atau harus disikapi secara berlebihan? Dikatakan berlebihan karena ditanggapi dengan cara dan pola orang dewasa. Jika sudah demikian, dimana letak kesalahannya? Jika ingin mengurai dimana letak kesalahannya, bolehlah kita mundur sejenak ke masa anak-anak dalam usia balita.
Golden Age (masa emas) adalah masa dimana kemampuan otak anak  untuk menyerap informasi sangat tinggi. Apapun informasi yang diberikan akan berdampak bagi anak di kemudian hari. Bersyukur jika informasi-informasi yang diserap positif. Tentu akan memberi dampak yang positif. Begitu pula sebaliknya....
Beberapa pakar berbeda pendapat mengenai rentang waktu masa Golden Age. Ada yang mengatakan berkisar 0 – 2 tahun, 0 – 3 tahun, 0 – 5 tahun, atau 0 – 8 tahun. Namun semua sepakat bahwa awal-awal tahun pertama kehidupan anak adalah masa-masa emas mereka. Oleh karena itu, masa Golden Age sering dikenal pula dengan ‘masa-masa penting anak yang tidak bisa diulang’. Dimasa inilah peran orang tua dituntut untuk bisa mendidik dan mengoptimalkan kecerdasan anak baik secara intelektual, emosional dan spritual.
Lalu apa saja yang bisa dilakukan oleh orang tua agar bisa lebih memaksimalkan masa-masa Golden Age? Beberapa hal yang perlu kita perhatikan, antara lain :
1.      Sering mengajak ke alam terbuka. Tak bisa dipungkiri, alam adalah tempat bermain yang ideal untuk merangsang rasa keingintahuan anak. Lihatlah ekspresi mereka ketika melihat burung yang terbang atau kodok yang melompat. Hal baru bagi mereka tentu merangsang keingintahuan mereka pula. Maka anak akan sangat rajin bertanya. Hal inilah yang perlu diperhatikan orang tua. Para orang tua wajib mempersiapkan rasa sabar dalam diri untuk melayani pertanyaan mereka. Biasanya tak cukup satu kali mereka bertanya. Dan pertanyaan yang sama sering diulang-ulang oleh mereka.
2.      Anak adalah peniru ulung. Jika diadakan kontes untuk menirukan apa yang dilihat, maka yang keluar sebagai pemenang adalah anak-anak. Yup... merekalah makhluk-makhluk dengan kemampuan meniru yang  luar biasa. Dan inilah peluang terbesar orang tua untuk membentuk karakter anak. Tak usah capek teriak-teriak memerintah untuk melakukan apa yang diinginkan, cukup berikan mereka contoh nyata. Dengan menjadi teladan bagi mereka, maka akan menjadi stimulus yang efektif. Jika orang tua senang membaca, kemungkinan besar anak akan demikian.
3.      Jangan memberikan target. Tanpa sadar para orang tua sering menerapkan hal ini dalam proses mendidik anak. Usia 2 tahun harus bisa mengenali warna, usia 4 tahun harus masuk sekolah dan mulai belajar calistung. Usia 5 tahun harus bisa membaca Al-Qur’an. Sekilas tak ada yang salah dengan target-target tersebut. Tetapi hal ini justru membuat anak merasa tertekan. Mereka akan berusaha mati-matian menyenangkan orang tuanya walaupu hati mereka tak bahagia. Akan lebih efektif jika kita menghargai atas usaha-usaha yang dilakukan mereka, walau terkadang tak sesuai dengan harapan kita sebagai orang tua.
4.      Jangan pelit pujian. “Subhanallah, baik kali abang mau ngasih mobil-mobilan ke adek”, pujian yang diberikan orang tua melihat si sulung mau berbagi mainan dengan adiknya. Sesuatu yang kita anggap biasa, tapi bisa berarti luar biasa bagi mereka. Dengan input positif berupa pujian atas perbuatan yang mengandung kebaikan, maka otak bawah sadar anak akan menangkap untuk sering berbuat kebaikan-kebaikan lainnya. Tapi perlu juga diingat tak berlebihan memberi pujian. Pun... saat anak melakukan kesalahan, jangan ragu untuk menegurnya. Tentu semuanya memakai bahasa dan cara yang santun.
5.    Selami dunia mereka. Saat bermain dan bercanda dengan anak, bertingkah lakulah seperti mereka. Jangan merasa sungkan dibilang kekanak-kanakan. Justru hal ini semakin mendekatkan orang tua dengan anak. Tentu anak semakin nyaman dengan suasana bermain saat kita larut dalam permainan tersebut.
Ini yang aku dapatkan dari keseharian mengasuh ‘duo krucil’ di rumah. Dua orang anak laki-laki dengan usia beranjak 3 dan 2 tahun tentu memerlukan kesabaran yang lebih. Bolehlah kelima tips diatas kita aplikasikan dalam pola pengasuhan anak.
Kembali ke persoalan awal mengenai anak yang bertingkah bak raja. Perlu dipahami, hal ini bukanlah sebab. Tapi ia adalah akibat. Dan ini hanyalah salah satu dari sekian banyak sikap yang diakibatkan oleh pola pengasuhan yang keliru. Boleh jadi mereka bertingkah seperti raja (ngomong teriak-teriak, suka memerintah) adalah cara mereka untuk mencari perhatian orang tuanya. Coba kita flashback ke belakang, melihat saat anak berada pada masa Golden Age. Saat asyik dengan hobi kita dan anak mendekat untuk ikut terlibat, apa yang kita lakukan? Saat sibuk memasak di dapur kemudian anak datang, respon apa yang ditunjukkan? Tak jarang kita menghardik anak dan memintanya menjauh. Hal ini terjadi berulang-ulang hingga tanpa sadar kita menanamkan perasaan ke diri anak bahwa orang tuanya kurang peduli pada dirinya.
“Tidaklah seorang bayi terlahir dalam keadaan suci, maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” (H.R. Muslim)


Semoga kita menjadi orang tua yang tak pernah berhenti belajar dan senantiasa memberikan teladan yang baik bagi anak-anak kita.

2 komentar:

  1. Pak. Kalo duo krucil mainnya apa aja pak? Buat referensi sy. Hehee

    BalasHapus
  2. Mainnya yaa standart gaya anak-anak Mas Eka.
    Obrak-abrik rumah, lari sana-lari sini, rebutan mainan, main pasir or tanah kalo dah diajak keluar ^___^

    BalasHapus