Pages

Sabtu, 05 Maret 2016

KIAN BEWARNA DI DWI WARNA


Tahu Sibolangit kawan? Yup.... Kawasan yang termasuk salah satu cagar alam yang ada di Sumatera Utara. Memiliki tofografi alam yang berbukit-bukit, berhawa sejuk dan tentunya menawarkan pemandangan yang luar biasa indahnya. Secara administratif Sibolangit merupakan salah satu kecamatan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Deli Serdang dan berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Karo. Jarak antara Sibolangit dan Medan sekitar 75 km dengan waktu perjalanan sekitar 1 jam (jika keadaan lalu lintas lancar). Tetapi biasanya ditempuh sekitar 2 jam.
Banyak pilihan destinasi wisata alam disini yang bisa dikunjungi. Jika berkunjung ke Medan, tak lengkap rasanya jika tak menjelajahi :
-          pemandian alam Sembahe
-          Bumi Perkemahan Sibolangit
-          Hillpark Greenhill
-          Taman Dewi
-          Air Terjun Dwi Warna.
Mengisi waktu di akhir pekan, saya dan teman-teman mengadakan kegiatan bertajuk  Tadabur Alam Sibolangit Camp Zone. Kegiatan yang berlangsung 1 hari penuh dan hanya diikuti oleh kaum yang memiliki panggilan abang (maksudnya kaum adam aja ^^). Dengan jumlah peserta 45 orang, kami bertolak dari Medan ke Sibolangit pada pukul 21.00 WIB. Sampai di lokasi Bumi Perkemahan Sibolangit sekitar pukul 22.45 WIB.
Tiba di lokasi bukan langsung nyenyak dibalik sleeping bag. Setelah mendengar taujih kami bergegas uji ketangkasan dengan memanah hingga waktu menunjukkan pukul 00.30 WIB. Tidur pukul 01.00 WIB dan bangun pada pukul 04.00 WIB. Mengawali hari dengan qiyaumul lail dan Subuh berjamaah yang dilakukan di alam terbuka. Dingin yang menusuk tulang berpadu dengan syahdunya lantunan Kalam-Nya. Rasanya? Subhanallah.....
Menyambut cahaya matahari pagi, kami melakukan senam dan beberapa game ringan. Ditutup dengan sarapan bersama di pinggir jalan. Dan.... time to go!

Setelah selesai berbenah dan menyiapkan segala keperluan, kami melakukan agenda berikutnya, tracking menuju Air Terjun Dwi Warna yang juga dikenal dengan nama Telaga Biru. Berada di  desa Durin Sirugun, di hulu Sungai Sinembah 1 yang juga merupakan kaki Gunung  Sibayak. Jangan bayangkan akses jalan menuju lokasi merupakan jalan yang lapang berbatu, tetapi lebih dari itu. Berjalan menuju lokasi Air Terjun Dwi Warna serasa membelah hutan Sibolangit. Kondisi track yang basah dan berhias akar-akar pohon yang menonjol keluar menjadi tantangan yang harus dihadapi para pengunjung. Belum lagi track yang terus menanjak, membutuhkan stamina yang prima.
Saat berniat ingin mengeksplore hutan Sibolangit dengan tujuan Air Terjun Dwi Warna, ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
  • Jangan bernampilan modis. Ini kawasan hutan kawan! Bukan pusat-pusat perbelanjaan. Penampilan tersebut hanya akan menghambat perjalanan yang menghabiskan waktu 2 jam. Sebaiknya kenakan pakaian lapangan.
  • Bawalah barang seperlunya. Jangan bebani tubuh dengan beragam benda. Ini hanya akan menambah beban dan tentunya lebih menguras tenaga mengingat track yang terus menanjak.

Setiap yang ingin berkunjung ke Air Terjun Dwi Warna, harus melapor dahulu ke posko yang ada di pintu masuk hutan. Berangkat dengan berkelompok dengan jumlah minimal 20 orang dan dipandu oleh seorang ranger. Ada tips dari para ranger untuk kita yang hobi mendaki, saat berjalan jangan terlalu cepat dan jangan pula terlalu lambat. Ini akan membantu kita untuk tidak terlalu sering berhenti. Kemudian saat badan mulai letih, lakukan pernapasan seperti biasa. Artinya menghirup dan mengeluarkan udara tetap dari hidung, bukan menghirup udara dari hidung dan mengeluarkannya dari mulut. Hal ini justru mempercepat tubuh letih.




And than, finally!
Segala rasa letih selama perjalanan, seolah terbayar lunas dengan keindahan yang ditawarkan oleh Air Terjun Dwi Warna. Yang menjadi keunikan air terjun ini adalah airnya yang terlihat biru. Jika cahaya matahari mengenai permukaan air, maka warna hijau dan biru terlihat mewarnai permukaan air. Hal ini menjadikannya disebut dengan Air Terjun Dwi Warna.

Semua peserta sukses mencapai tempat ini, termasuk beberapa anak-anak yang ikut serta. Hanya saya yang hanya sekejap menikmati keindahan Air Terjun Dwi Warna. Keletihan yang mendera akibat persiapan fisik yang tak memadai mengharuskan saya harus lebih dahulu meninggalkan lokasi. Ditemani dengan seorang ranger, saya turun kembali ke posko. Waktu yang seharusnya bisa ditempuh kurang dari 2 jam harus ditempuh lebih dari 3 jam. Stamina yang drop mengharuskan beberapa kali berhenti untuk istirahat. Hal ini yang menjadi pertimbangan mengapa saya lebih dahulu turun. Tiba di posko hampir berbarengan dengan teman-teman yang turun belakangan.

Tak berhenti sampai disini, ada satu lagi agenda kegiatan yang harus dilaksanakan. Rafling, menjadi kegiatan terakhir yang kami lakukan. Sayang, baru beberapa orang melakukan rafling, hujan deras mengguyur Bumi Perkemahan Sibolangit.
Setelah makan malam dan shalat Isya berjamaah, kami bertolak kembali ke Medan pukul 19.00 WIB dan tiba di rumah sekitar pukul 21.30 WIB. Letih yang mendera seakan menguap sejenak melihat Duo Krucil yang tidur lelap dengan posisi yang ajib pisan.^^
Ada beberapa hal yang membekas di hati. Ternyata hutan bisa menjadi barometer siapa kita dan bagaimana kita di hadapan-Nya. Perilaku yang terkadang menunjukkan kepongahan dengan segala kemampuan yang kita miliki, ternyata semua seakan luruh saat menghadapi kondisi hutan yang sulit. Tak terbayangkan kondisi yang dihadapi para pejuang kemerdekaan dahulu yang bergerilya keluar masuk hutan.
Sukses yang sering kita klaim adalah hasil jerih payah sendiri, ternyata ia hanya satu dari mata rantai kesuksesan yang orang lain turut andil didalamnya. Kesediaan beberapa teman yang menemaniku saat mendaki menuju Air Terjun Dwi Warna menyampaikan pesan itu padaku. Dengan konsekuensi mereka tertinggal dengan teman-teman yang berjalan didepan.
Team work itu penting kawan! Karena kita bukanlah manusia super, apalagi superman.......


1 komentar:

  1. Dulu ke sub langit tp ke tmpat orang utan aj pak. Jd tdk main ke air terjun. Air yg di bwah benar-benar biru ya pak.

    BalasHapus