Pages

Senin, 21 Maret 2016

MESJID RAMAH....^____^


Pernah ga sih, saat shalat di Mesjid dan menemukan tulisan “Dilarang Tidur di Dalam Mesjid”, atau di lain kesempatan menjumpai tulisan “Perhatian! Dilarang Bawa Anak Kecil, Ganggu yang Lain”. Gimana perasaan kamu kawan?
Jujur, aku sering merasa keki jika melihat hal ini. Seakan fungsi Mesjid dibatasi hanya untuk shalat semata. Di luar itu, out! Padahal jauh dari itu, Mesjid memiliki fungsi yang lebih kompleks.
Saat hijrah ke Madinah, hal pertama yang dilakukan Rasulullah adalah membangun Mesjid Quba. Mesjid ini tidak hanya digunakan untuk shalat semata, tapi dari sinilah Rasulullah membangun ‘peradaban’. Ia menjadi sentral dakwah Rasulullah. Segala permasalahan ummat Beliau selesaikan di Mesjid. Tak heran, para kaum muslimin selalu mencari Rasulullah ke Mesjid. Bukan ke rumahnya. Ini mengindikasikan bahwa banyak aktivitas yang dilakukan di Mesjid, bukan ritual ibadah semata.
Hal ini justru berbanding terbalik jika kita lihat kondisi Mesjid sekarang yang kurang bersahabat dengan jamaah yang datang. Larangan-larangan seperti contoh diatas seakan menjadi peraturan baru yang harus ditaati setiap orang yang datang. Bisa jadi jamaah yang datang adalah orang yang tengah dalam perjalanan. Bayangkan saat kondisi tubuh dalam keadaan lelah dan membaca ‘himbauan’ tidak boleh rebahan di dalam mesjid. Alangkah lebih ‘manusiawi’ jika jemaah boleh melakukan aktifitas rehat sejenak. Bahkan yang lebih ‘galak’, ada yang mencantumkan tidak boleh mencharge handphone.
Belum lagi takmir Mesjid yang begitu tak bersahabat dengan anak-anak. Teriakan bernada kasar terhadap anak yang ribut saat shalat menjadi hal yang sering terdengar menjelang pelaksanaan shalat. Biasanya ini diwaktu Magrib. Salah satu ucapan yang sering aku dengar adalah “Kalo ribut, gak usah shalat di Mesjid”. Duh Gusti..... Sadarkah mereka jika anak-anak yang ribut itu kelak yang  meramaikan Mesjid?
Bukan bermaksud menjudge bahwa hampir seluruh Mesjid seperti diatas kondisinya. Tapi realitanya, banyak yang bersikap kurang ramah terhadap jamaah. Mungkin ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk kembali memfungsikan Mesjid layaknya Mesjid di jaman Rasulullah.
Alangkah lebih baik jika larangan tidak boleh tidur di dalam Mesjid diganti dengan ajakan untuk tetap menjaga kebersihan. Atau menyediakan ruangan khusus (tak perlu wah) untuk tempat beristirahat. Pernah kubaca dalam sebuah postingan di facebook tentang sebuah mesjid yang bahkan menyediakan ruang khusus istirahat sekelas penginapan, boleh mencharge handphone bahkan menyediakan makan atau minuman.
Ini mengingatkanku akan sebuah Mesjid yang saban pulang kampung dari Medan ke Pematang Siantar selalu kulewati dan kusinggahi. Mesjid Al-Ikhlas namanya. Berada di lokasi perumahan PTPN IV Pabatu, jalan raya Pematang Siantar – Tebing Tinggi (kira-kira 8 km dari pusat kota Tebing Tinggi). Kenyamanan jamaah yang singgah sangat diperhatikan. Selain kondisi tempat shalat yang nyaman, tempat wudhu yang bersih, Mesjid ini juga menyediakan minuman gratis. Kopi maupun teh panas siap diseduh kapan saja oleh mereka yang datang, sambil membaca buku yang memang tersedia di koridor belakang Mesjid Al-Ikhlas. Layaknya kita berada di sebuah cafe. Jejeran buku yang siap dibaca serta kopi atau teh yang siap diseduh plus hembusan angin yang sepoi-sepoi adalah hal yang siap menyambut siapa saja yang singgah. Aku jadi berpikir, jika semua Mesjid kondisinya seperti itu, Subhanallah! Tak harus fasilitasnya lengkap, cukup membiarkan Mesjid berfungsi layaknya Mesjid yang seutuhnya.
Terakhir, hal yang menggangguku adalah teriakan takmir Mesjid terhadap anak-anak yang sering melakukan kegaduhan saat sedang shalat. Bayangkan jika saat ini mereka dimarahi bahkan diusir dari Mesjid dilarang datang untuk shalat hanya karena mereka ribut, maka siapa lagi kelak yang akan meramaikan Mesjid? Tak perlu repot menempatkan mereka di shaf khusus, dengan alasan agar tak mengganggu kekhusyukan jamaah yang tengah shalat. Cukup selipkan saja mereka di antara shaf yang ada, bukan justru mengisolasi mereka dalam shaf khusus. Hal ini sangat efektif untuk meredam keributan yang ditimbulkan. Selain itu, juga mengajarkan gerakan shalat yang benar kepada anak-anak. Saat mereka berada diantara shaf orang dewasa, otomatis ia akan memperhatikan gerakan-gerakan shalat yang dilakukan.
Cukuplah perkataan Muhammad Al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel menyindir kita, 
"Jika kalian tidak lagi mendengar riang tawa dan gelak bahagia anak-anak di masjid-masjid, waspadalah. Saat itu kalian dalam bahaya"


Menanamkan pada diri naka senang mengunjungi Mesjid merupakan tanggung jawab orang tua. Mesjid adalah tempat mulia, sebuah tempat yang sangat kondusif dalam menumbuhkan kecintaan anak kepada Allah Ta’ala, menanamkan nilai-nilai sosial, kebersamaan dan tasamuh (tenggang rasa dan lapang dada). Dari Mesjid, kehidupan beragama pada diri anak ditumbuhkan. 
Yuk ahh..... Kita ciptakan suasana Mesjid yang ramah!! 
#abmolsat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar