Pages

Rabu, 19 Oktober 2016

BERDUA KE DANAU TOBA




Danau Toba adalah salah satu destinasi wisata yang ada di Sumatera Utara. Keindahan yang ditawarkan mampu membius banyak orang. Dengan luas 1.145 kilometer persegi menjadikannya danau terluas dan terdalam se-Asia Tenggara.

Berdua dengan istri, kami berangkat dari Medan dengan tujuan Danau Toba mengendarai sepeda motor. Memanfaatkan momen liburan (libur ala sendiri tentunya ^^), kami singgah ke Pematang Siantar dan bermalam disana. Alhamdulillah, biaya akomodasi gratis. Sebab kami menginap di rumah orang tua. ^^


Jarak Medan – Pematang Siantar sekitar 133,4 kilometer dan ditempuh selama 3 jam. Dengan mengendarai sepeda motor, cukup mengeluarkan biaya Rp. 35.000,- untuk membeli bensin. Bukan tanpa alasan singgah ke rumah orang tua, selain menghemat biaya penginapan juga momen untuk mengunjungi orang tua (-tilik- begitu kami menyebutnya). Perjalanan dari Pematang Siantar – Parapat menempuh jarak 47,8 km. Memakan waktu 1 jam lebih. Jika berangkat dari rumah orang tua di Jl. Asahan, yang berjarak 24 kilometer dari pusat kota Pematang Siantar memakan waktu 1 jam 30 menit. Jarak ini dilalui dengan rute Jalan Raya Lintas Tengah Sumatera. Rute yang umum digunakan. Berbeda jika melalui rute lain, bisa lebih lama di perjalanan.

Karena hanya berdua dengan istri, kami berinisiatif melalui jalur lain. Bukan Pematang Siantar – Parapat, tetapi Pematang Siantar – Sidamanik – Tanjung Unta – Parapat. Ingin menikmati jalur baru, view Danau Toba yang belum pernah kami lihat membulatkan tekad untuk menjajal rute yang sama sekali belum pernah dilalui. Pukul 07.00 WIB kami berangkat dari rumah dengan berboncengan mengendarai sepeda motor matic. Suasana lalu lintas yang masih relatif sepi, membuat perjalanan kami lancar tanpa hambatan. Tiba di Sidamanik sekitar pukul 08.00 WIB.

Alasan utama kami melalui Sidamanik adalah ingin menikmati segarnya udara di tengah luasnya perkebunan teh. Yup, Sidamanik adalah sentra perkebunan teh yang ada di Sumatera Utara dan penghasil teh hitam kedua terbesar di Indonesia. Perkebunan ini dikelola oleh PTPN IV, dengan luas 8.373 ha. Tak ada kutipan retribusi jika ingin masuk ke perkebunan teh Sidamanik. Dibawah teduhnya pohon, kami makan bersama. Semilirnya angin yang berhembus ditengah hamparan hijaunya teh, membuat kami betah untuk berlama-lama. Sekitar 1 jam saya dan istri berada di perkebunan teh Sidamanik. Sekitar pukul 09.00 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju Parapat. Sesuai petunjuk yang kami terima, jika ingin menuju Parapat cukup mengikuti jalan beraspal. Di ujung jalan setelah melewati perkebunan teh, ada persimpangan jalan. Ke kanan menuju Tongging, dengan rute Simarjarunjung. Jalan ini juga bisa menuju Danau Toba. Kami mengambil jalur kiri, melalui rute Tanjung Unta.

Jika ingin merasakan sensasi berkendara melewati hutan, maka jalur Tanjung Unta bisa menjadi pilihan. Sepanjang jalan mata dimanjakan dengan hamparan pohon pinus yang berbaris rapi. Jalan yang dilalui benar-benar di tengah hutan. Tak usah khawatir dengan kondisi jalan, seluruhnya beraspal. Yang perlu dikhawatirkan adalah kondisi kendaraan. Karena sepanjang jalan hampir tidak ada pemukiman penduduk. Kalaupun ada hanya beberapa saja dan tidak ramai. Oleh karena itu, pastikan kondisi kendaraan dalam kondisi fit dan bahan bakar terisi penuh. Tentu akan sangat merepotkan jika ditengah perjalanan harus mendorong kendaraan yang mogok.

Salah satu view yang akan menyambut kita adalah pemandangan Tanjung Unta yang begitu mempesona. Tanjung Unta adalah sebuah teluk, yang datarannya menjorok kedalam lautan. Dinamakan Tanjung Unta, karena bentuknya seperti hewan unta yang sedang istirahat. Setiap warga negara Indonesia pasti pernah melihat Tanjung Unta. Tetapi sayangnya mereka tak sadar jika itu adalah Tanjung Unta. Pernah memegang uang seribu kawan? Yup, di uang seribu ada gambar Danau Toba yang viewnya diambil dari Tanjung Unta. Secara administratif Tanjung Unta (dan Danau Toba) masuk kedalam wilayah Kabupaten Simalungun, Kecuali Pulau Samosir yang berada dalam kawasan Kabupaten Samosir. Kabupaten yang dimekarkan pada tanggal 18 Desember 2003, bersamaan dengan pemekaran Kabupaten Serdang Bedagai.

Mengingat waktu, maka kami melanjutkan perjalanan menuju Parapat. Tak lengkap rasanya jika ke Parapat tak menyeberang ke Pulau Samosir. Ada dua pelabuhan disini, yaitu Ajibata dan Tigaraja. Pelabuhan yang umum digunakan adalah Ajibata, namun saat musim liburan pelabuhan ini akan dipenuhi oleh mobil pribadi dan bus. Sedangkan melalui pelabuhan Tigaraja, tidak terlalu ramai. Sebab pelabuhan ini lebih sering digunakan penduduk sekitar yang ingin menyeberang ke Samosir. Berhubung bukan masa liburan, kami menyeberang melalui pelabuhan Ajibata.


Jika mengendarai mobil, maka menaiki kapal ferry khusus kendaraan roda empat. Dengan biaya Rp. 10.000,-/orang dan Rp. 25.000,-/mobil. Sedangkan dengan kapal wisata, tarif penyeberangan Rp. 5000,-/orang dan Rp. 10.000,-/sepeda motor. Ada yang unik di pelabuhan Ajibata. Kita akan menyaksikan anak-anak berenang dan meminta kita untuk melempar uang koin. Ketika uang kita lempar, mereka akan berenang dengan lincah untuk menangkapnya. Bahkan menyelam untuk mendapatkan uang koin.

Dari Parapat kami bergerak ke Tomok. Inilah sentra penjualan pernak-pernik khas Danau Toba. Beragam baju hingga handycraft bisa kita temui disini. Berlokasi tepat di dekat pelabuhan, Tomok merupakan gerbang menuju Samosir. di Tomok kita bisa melihat makam besar (makam Raja Sidabutar dan keluarganya), Museum Batak, Batu Kursi Tomok, dan tentunya Patung Sigale-gale. Kami hanya berkeliling setelah sebelumnya memarkirkan sepeda motor dan membayar Rp. 2000,- untuk retribusinya. Selanjutnya kami menuju Tuk Tuk, the resort island. Mungkin saja ada resort yang dikelola oleh Zen Rooms. ^^
















Sebaiknya membawa bekal dari rumah jika ingin mengeksplore Samosir. Apalagi jika memilih wisata ala backpacker. Selain menghemat pengeluaran, rumah makan dengan sertifikasi halal sangat sulit ditemukan. Untuk yang muslim, melaksanakan sholat juga sulit di Tomok. Hal ini kami rasakan, muter-muter mencari Mushola hingga menemukannya di Tuktuk. Tepat berada di belakang Kantor Pangulu (Kepala Desa). Dari jalan tidak akan terlihat. Kudu rajin bertanya kepada warga sekitar.

Dengan tersebarnya objek-objek wisata yang ada, disarankan berkunjung ke Danau Toba menggunakan kendaraan pribadi. Lebih seru jika mengendarai sepeda motor. Hembusan angin pegunungan yang langsung menerpa tubuh menjadi sensasi tersendiri. Apalagi jika rute yang ditempuh bukan rute pada umumnya. Medan – Pematang Siantar – Sidamanik – Tanjung Unta – Parapat, adalah rute alternatif yang pantas dicoba jika ingin berkunjung ke Danau Toba. Kami meninggalkan Parapat kembali ke Siantar melalui rute Parapat – Pematang Siantar, mengingat waktu yang kian beranjak sore.

Secara keseluruhan, estimasi biaya wisata ke Danau Toba 1 hari full (tanpa menginap) hanya menghabiskan dana tak lebih dari Rp. 200.000,-. Sesuatu bukan...... ^^
Yang menjadi catatan penting jika ingin wisata hemat ala backpacker adalah perhatikan kondisi tubuh. Pastikan kita dalam keadaan fit, hingga hal-hal yang tak diinginkan selama di perjalanan dapat dihindari.
Next trip, kita eksplore lagi Danau Toba lebih jauh.


Hemat ke Parapat, 
banyak pula yang dilihat.


Salam...... ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar