Pages

Rabu, 09 November 2016

KETIKA ‘TUT...TUT...TUT...’ MEMBUAT KALUT



Ini bukan cerita tentang kentut, bukan pula penggalan lagu yang dinyanyikan menjelang tengah malam. Hanya sepenggal rasa sesak di dada yang masih tertinggal. ^^

#411 Punya arti tersendiri bagiku. Disamping itu adalah terjadinya salah satu momen yang tak terlupakan oleh bangsa tercinta ini (cemiiwwiiiw). Adanya aksi besar-besaran di Jakarta yang diikuti oleh ratusan ribu umat Islam dari berbagai penjuru menuntut gubernur Jakarta ditangkap atas tuduhan penistaan agama. Aksi serupa juga terjadi di berbagai daerah. Pada hari itu, satu momen yang begitu membekas juga turut aku rasakan.

Jum’at siang kala itu, kami sekeluarga berniat pulang kampung. Memenuhi undangan abang yang punya hajatan khitan anaknya. Berencana naik kereta api, tiket pun telah aku beli sehari sebelumnya. Dengan jadwal keberangkatan pukul 13.27, idealnya pukul 12.30 kami harus berangkat menuju stasiun. Yang terjadi, justru pukul 13.10 kami baru berangkat dari rumah. Oooh...em...je..., perasaanku langsung acak kadut. Pulang dari shalat Jum’at, kulihat istri belum juga ready. Lupa..... ada keringanan untuk tidak menunaikan shalat Jum’at ketika dalam kondisi dalam perjalanan (safar).

Seperti dugaanku, sampai di stasiun pukul 13.30. Dan..... si gagah Siantar Express telah pergi meninggalkan Stasiun Besar Kereta Api Medan. Padahal masih ada asa, saat tiba melihat kereta api yang belum berangkat. Dengan tergopoh-gopoh menuju mesin check in tiket, ketika monitor menampilkan kalimat ‘maaf, kereta api telah berangkat’ hatiku pun langsung lemes. Si sulung Fathin pun langsung merengek, ingin segera naik kereta api. Jurus bersilat lidah mau tak mau kudu dikeluarkan. Hingga sukses membujuknya untuk naik bus.

Perjalanan selama 3 jam kami lalui dengan memangku anak. Perjuangan untuk tetap sabar masih terus berlanjut. Sampai di Simpang Dolok Merangir, kami harus menunggu mobil jemputan. Tiba pukul 17.30, kami sukses duduk berjam-jam di teras Masjid menunggu jemputan yang baru datang saat pukul 20.00.

Dan.... gagal kembali menyapa. Niat kembali ke Medan naik kereta api kembali pupus. Beruntung dapat transportasi yang nyaman, hingga duo krucil masih bisa happy sepanjang perjalanan pulang, melupakan keinginan yang kuat untuk bisa naik kereta api. (maaf ya nak, naik kereta api untuk pertama kalinya bareng kalian gagal) T___T

Masih ada sebenarnya rentetan peristiwa yang tak mengenakkan. Tak cukup rasanya jika harus ditumpahkan disini (halaahh.....mulai kumat nih ^^). Ternyata apapun perisitiwa yang kita alami, jika dipandang dari sisi positif maka akan banyak sekali hikmah yang dapat diambil. Sisi ini pula yang mendorong kita untuk menikmati ‘ketidaknyamanan’ yang dirasakan. Bisa kubayangkan, jika diperturutkan rasa kesal yang memuncak bisa jadi akan terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan. Dan itu sempat aku rasakan, ketika dengan ketus kujawab pertanyaan istri naik apa jadinya saat ketinggalan kereta api. Alhamdulillah, rasa kesal yang memuncak tak berlarut-larut. Seperti biasa, jurus 6 – 2 – 6** kembali kugunakan.

Yang berat itu justru mengalihkan perhatian Fathin yang begitu ingin naik kereta api. Dengan teknik asosiasi sederhana, aku berhasil membujuknya. Bahkan ia tampak ceria sepanjang perjalanan. Mulutnya tak berhenti untuk mengoceh. Lalu gimana teknik asosiasi itu? Hal ini sering juga kulakukan tiap kali Fathin merengek atau cemberut. Biasanya kuajak ia bercerita dan memasukkan pesan yang ingin disampaikan terkait keinginannya yang tidak terkabul. Pesan sederhana yang intinya karena sesuatu hal keinginannya belum terwujud dan menggantinya dengan alternatif pilihan yang lain sembari tetap berjanji untuk memenuhi keinginannya semula.
Semisal keinginannya naik kereta api ke kampung halaman. Jauh-jauh hari berulang kali ia mengungkapkan keinginannya yang begitu besar untuk naik kereta api. Dan itu  diulang-ulang setiap kami duduk bersama di ruang keluarga. Saat tiba di hari H dan ternyata keinginannya tak terwujud, kekecewaan jelas tergambar dari wajahnya. Disinilah peran orang tuanya menjelaskan serta membujuknya. Biasanya kami ungkapkan alasannya sesederhana mungkin. Dan sebisa mungkin sesuai dengan fakta yang ada, bukan direkayasa.

Sedari awal, ada sugesti terselubung. Dengan mengulang-ulang kata ‘Pakde’ tiap kali ngomongin kereta api. Jadi dapat clicknya, tujuan pergi ya ke rumah Pakdenya. Jadi apapun itu ya harus sampai ke rumah Pakdenya. Saat ditawari harus naik bus agar bisa sampai ke rumah Pakde, tuh bocah ya manut aja. ^^
Kalau si bungsu mah, relatif mudah membujuknya. Tak perlu usaha ekstra. Dengan karakter yang lebih kalem, membuat Syahmi hampir selalu nurut dengan apa yang ditawarkan padanya.

Yuk ahh, mulai sekarang ajak ngomong anak-anak kita layaknya teman. Dengan mengajaknya berbicara, kita akan tahu lebih detail apa yang menjadi keinginannya. Ini juga membiasakannya untuk berdiskusi tentang apapun yang dihadapinya. Baik itu keinginannya, permasalahannya, hingga pendapat-pendapatnya.

Ternyata, berpikir positif itu laksana setitik sinar dalam kegelapan yang menuntun kita untuk menghalau kegelapan itu. Semoga hari-hari yang kita lalui tidak rusak oleh ketidaknyamanan yang sering menghampiri......

Note ; **6 – 2 – 6 (Menarik napas dalam hitungan 6 kemudian menahannya dalam 2 hitungan dan melepaskannya kembali dalam hitungan 6)

Salam Hangat..... ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar