Pages

Kamis, 29 Desember 2016

BAKTI TIADA BERTEPI


Sosok itu berjalan dengan tegap. Menyongsong hari dengan selaksa cinta sebagai bekal mencerdaskan anak bangsa. Peluh yang membasahi wajah, segera diseka dengan sapu tangan beraroma kasturi yang senantiasa setia menghias kantong celana. Aroma nan semerbak pun tak luput menjelajah udara saat Ia berlalu. Senyum yang indah itu seolah enggan meninggalkan wajah teduh nan bersahaja, walau setiap hari berpacu dengan waktu. Berusaha sekuat tenaga sampai di tempat Ia mengabdi tepat waktu, seolah ingin menegaskan kepada Sang Mentari bahwa kompetisi ‘siapa cepat’ takkan pernah berakhir. Siapa mereka? Yang kadar cintanya senantiasa terbaharui. Siapa mereka? Yang kesabarannya seolah tiada bertepi. Siapa mereka? Yang tetap abadi dalam lautan memori. Siapa mereka? Yang namanya terpatri dengan indah di sanubari setiap insan manusia.


Mereka adalah sosok yang tak membutuhkan bintang tanda jasa untuk mengenang pengabdiannya. Tetap bekerja walau dihina, tetap bersinar dalam gelap yang berpendar. Guru..... Begitu kita memanggilnya. Ada kerinduan yang membuncah tiap kata itu singgah di telinga. Coba sejenak berbalik badan, membuka kembali buku kenangan lembar demi lembar. Maka kita akan menemukan nama mereka mengisi begitu banyak lembar buku kenangan yang pernah kita tulis. Keberadaannya mengisi kekosongan dalam sanubari. Pantas kiranya jika Ia kita ibaratkan bagai orang tua kedua.

Kesabarannya menuntun tangan kita saat menggores kertas dengan pena. Hingga kita terlatih merangkai kata demi  kata. Belaiannya membuat kita pandai mengeja rangkaian huruf hingga lancar membaca. Kejeliannya mendorong kita semakin cepat dalam berhitung. Bahkan tak jarang kita lebih mempercayai ucapannya dibanding orang tua. Ingatkah kita saat kecil ngeyel ketika dibimbing ibu atau ayah saat belajar dengan mengatakan; “Itu salah, bukan begitu yang diajarkan ibu guru”. Itu yang sering kita ucapkan, padahal hanya cara yang diajarkan saja sedikit berbeda.


Kini mereka telah menjelma menjadi sosok kekinian, yang bertransformasi menjadi manusia modern seiring dengan berjalannya waktu. Kayuhan sepeda ontel kini berganti dengan deruman sepeda motor yang siap mengantarkan kepada saja. Busana kumal, kusut dan berbau kecut berubah dalam balutan busana rapi nan wangi. Pena yang terselip di ujung kantong yang senantiasa meninggalkan noda tinta kini diganti dengan benda persegi bernama smartphone. Bentakan dan pandangan matanya yang tajam lebur menjadi ucapan pelan dan lirikan penuh makna. Tetapi.....

Tahukah kita, di tengah modernisasi yang mereka alami, sejatinya ada rintihan pedih disana. Ada kegalauan yang melanda. Ada kebimbangan yang mendera. Mereka tak lagi bisa mengaum dengan leluasa, laksana singa di hutan belantara. Tapi kini ia serasa singa yang menghabiskan waktu dalam kurungan.

Dituntut untuk mengajar dengan hati, dengan harapan terlahir insan yang berbudi. Tetapi keleluasaannya untuk membentuk karakter anak didik terbentur dengan seabreg aturan yang membingungkan. Tahukah kawan, sepotong roti yang gurih harus menikmati serangkaian proses yang panjang. Ada pencampuran, pengadukan, pencetakan hingga pembakaran. Dan semua itu dilalui dengan campur tangan sebuah ‘sentuhan’ tangan.
Dan.... proses yang jauh lebih rumit yaitu proses pembentukan karakter manusia diharuskan dilakukan tanpa ‘sentuhan’ tangan? Imposible brother!!

Betapa kini kita terlalu sering mendengar berita yang menyesakkan hati. Guru yang notabene pilar penting dalam sebuah negara, karena peran penting mereka mempersiapkan generasi tangguh harus berhadapan dengan penegak hukum karena masalah yang terlalu biasa dalam dunia pendidikan. Cubitan, bahkan teguran harus berakhir di meja pengadilan. Bapak Sambudi di Sidoarjo, Bapak Dasrul di Makasar dan Ibu Nurmayani di Sulawesi, hanya segelintir nama yang harus rela berurusan dengan pihak berwajib.
Tidakkah kita ingat sewaktu kecil dulu, saat guru menegur, mencubit bahkan melibas dengan penggaris kayu atau melempar penghapus yang terbuat dari kayu, tak pernah sekalipun kita mendengar mereka kemudian diciduk yang berwajib untuk kemudian diadili. Bahkan saat kita mengadu kepada orang tua, mereka justru akan membela apa yang dilakukan guru.


Saya tak bermaksud mendukung kekerasan dalam pendidikan, bukan pula berkeinginan menentang peraturan yang kini menjelma menjadi undang-undang perlindungan anak. Bukan itu kawan.....
Ada hal penting yang hilang dalam dunia pendidikan kita. Trust...
Hilangnya rasa percaya pada mereka yang diberi amanah mendidik anak-anak kita. Tak heran, jika permasalahan yang timbul berakar dari kesalahpahaman. Dan kesalahpahaman ada karena kurangnya kepercayaan.

Belum lagi urusan administrasi yang tak kunjung tuntas, datang silih berganti untuk dikerjakan. Pelengkapan berkas demi impian meraih sertifikasi, update data berkala yang harus dilakukan, mengawal proses ujian hingga pengisian raport, dan rutinitas administrasi lain yang justru menyita waktu mengajar. Itu semua, lebih banyak dilakukan connect by internet. Padahal, tak semua guru paham dengan teknologi yang terus berjalan dan memaksa [suka tidak suka] setiap orang harus mengikutinya. Lihatlah para guru yang keberadaannnya nun jauh disana, pedalaman Indonesia. Jangankan memahami internet, mereka justru harus [dan masih] berjuangan menaklukkan medan yang tak bersahabat. Menyebarangi sungai, hutan, hingga berlumpur ria kerap mereka jalani. Belum lagi sarana komunikasi yang kerap menjadi tembok penghalang ke dunia luar. jangan signal telepon, ketiadaan penerangan menjadi teman akrab mereka. Sayangnya, pemangku kebijakan yang bergelimang fasilitas di pusat pemerintahan tak melihat dan mempertimbangkan kondisi mereka. Setiap kebijakan baru terkesan senantiasa dipaksakan.

Tetapi, lihatlah.....
Segala problematika dalam dunia pendidikan mereka sambut dengan senyuman. Langkah tetap terayun demi bakti cerdaskan negeri. Lisan tetap berucap memberi ilmu, demi harapan mencetak generasi bermutu. Semangat tetap membara demi munculnya insan beretika. Karena mereka adalah pelita, baik kini maupun nanti.

Semoga keberkahan senantiasa menaungi setiap langkah kalian, guru Indonesia...!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar