Pages

Senin, 19 Desember 2016

MENGEJA DUNIA...!!


Mengeja dunia hingga kemudian menaklukannya adalah bagian dari tahapan dalam menggapai impian yang tertanam dan mengakar di setiap diri kita. Sebegitu pentingkah sebuah impian dalam hidup? Impian adalah manifestasi dari keinginan kuat dalam diri. Ia bagai navigasi yang menuntun pada pencapaian impian. Bahan bakar ketika semangat melemah dan menguap. Jangan takut untuk bermimpi, karena itu menggambarkan apa, siapa dan bagaimana kita. Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok, begitu Imam Syahid Hasan Al-Bana menggambarkan impian. Lagi pula mimpi itu gratis kawan, tidak ada kutipan sepeser pun untuk membayarnya.

Impian tak ujug-ujug datang dengan sendirinya. Karena ia adalah keinginan yang datang dari dalam diri. Butuh usaha untuk memiliki impian (laaa... punya mimpi aja kudu usaha dulu ya ^^). Salah satu upaya dalam menumbuhkan impian adalah dengan membaca. Budaya mulia yang kini seolah lenyap dari generasi masa kini. Padahal membaca adalah gerbang untuk menyingkap lautan ilmu yang luasnya membentang tak terhingga. Dengan membaca selalu ada hal baru yang dipelajari. Seolah cadangan pengetahuan kita senantiasa terbarukan. Dan....itu terasah dengan banyaknya buku yang kita baca. Bukankah wahyu pertama yang diterima Baginda Rasulullah adalah membaca [iqra’]? Alangkah baiknya jika budaya membaca pada generasi sekarang kembali ditumbuhkan yang dimulai dari keluarga-keluarga kecil kita.

Ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, ada satu momen yang tak terlupakan hingga kini. Setiap Minggu malam rumah lebih senyap dari biasanya. Masing-masing kami asik dengan kesibukan masing-masing. Bapak larut dalam primbon atau surat kabar, Ibu tekun membaca majalah kesayangannya [Kartini yang selalu setia]. Terkadang juga terlihat terbata-bata membaca buku tentang merajut berbahasa Belanda. Serius....! Ibu itu sosok inspirasi tiada bertepi. Walau Cuma tamatan SR (Sekolah Rakyat), tapi bacaannya buku berbahasa Belanda. Hihihi.... bagi aku mah ini sesuatu yang amazing. Luar biasa lae !! Sedang kami terdiam di kamar dengan buku pelajaran masing-masing. Jika datang ke rumah kami, jangan heran jika melihat tas bertumpuk-tumpuk. Bukan berisi pakaian, melainkan buku. Teman-teman pun sering menyempatkan datang hanya untuk membaca. Maklum, diantara mereka koleksi buku di rumah terbilang lengkap. Kala itu majalah Bobo dan Donal Bebek menjadi bacaan favorit. Bertumpuk hingga memenuhi dua tas besar. Bahkan rubrik oh mama oh papa yang sering membahas permasalahan rumah tangga berdasarkan kisah nyata di majalah Kartini sering juga aku lahap (jangan ditiru yaa, anak-anak mah belum saatnya ngebaca itu. Hehehe...)

Kini, kebiasaan membaca perlahan mulai aku tularkan kepada duo krucil di rumah. Walau masih berusia 3 dan 2 tahun dan belum bisa membaca, setidaknya mereka tahu kalau buku itu untuk dibaca. Tahu buku harus dijaga dan dirawat, tahu mengingatkan orang tuanya untuk membaca. Berharap kelak mereka tumbuh menjadi pribadi tangguh dengan segudang impian dalam dirinya.

Semoga kemajuan yang dialami Jepang memompa semangat kita untuk meluangkan waktu membaca. Sudah menjadi rahasia umum, Jepang mampu bertransformasi menjadi negara maju berkat kebiasaan mereka yang telah dibangun semenjak lama. Membudayakan gerakan gemar membaca sejak kecil. Terkait hal ini, ada beberapa kebiasaan mereka yang patut kita tiru dan diaplikasikan dalam keseharian kita.

1. Membaca di Setiap Tempat

Membaca di transportasi umum, di taman, hingga ketika mengantri bukanlah pemandangan aneh di Jepang. Bahkan hanya sekedar untuk membaca komik. Justru sibuk dengan ponsel menjadi barang langka yang sangat jarang ditemui. Berbanding terbalik tentunya dengan kondisi kita

2. Tachiyomi

Eh, ini bukan mainan loh ya. Kalau tamagochi mah emang iya. Tachiyomi merupakan kegiatan membaca gratis yang dilakukan sambil berdiri di toko buku. Hal ini biasa dilakukan oleh banyak toko buku di Jepang. Beberapa buku sengaja dibuka plastik pembungkusnya agar bisa dibaca oleh pembeli. Berbeda sekali ya dengan kita di Indonesia, yang sengaja menyobek plastik pembungkus buku kemudian membacanya diam-diam di pojok. Uniknya para penjual tidak merasa dirugikan dengan adanya tachiyomi. Justru mereka beranggapan semakin ramai tachiyomi di tokonya maka semakin banyak yang datang dan kemungkinan untuk membeli juga semakin besar.

3. Banyak Toko Buku

Tahukah kamu jika toko buku yang ada di Jepang sama dengan toko buku yang ada di Amerika Serikat? Padahal jumlah penduduk Amerika Serikat dua kali lebih banyak penduduk Jepang dan luas Amerika Serikat dua puluh enam kali lebih luas dari Jepang. Ini tentu menggambarkan daya beli orang Jepang terhadap buku begitu tinggi. Lalu bagaimana dengan kita? Event obral buku yang dilakukan oleh sebuah penerbit besar belakangan ini menggambarkan daya beli kita terhadap buku. Tentu menyampaikan pesan pula bagaimana budaya membaca kita. Hiks.....

4. Seciguchi

Ini adalah tele shopping, tetapi yang dijuala adalah buku. Acara ini tentu sangat membantu bagi mereka yang tak punya waktu luang untuk pergi ke toko buku. Pemirsa di rumah dapat melihat referensi buku yang ada dan memesannya melalui internet atau telepon jika tertarik untuk membeli.

5. 10 Menit Membaca di Sekolah

Harian nasional bernama Yoshiko Shimbun menyampaikan bahwa kebiasaan membaca di Jepang dimulai dari bangku sekolah. Kegiatan yang telah berlangsung selama 30 tahun ini mewajibkan siswanya untuk membaca buku 10 menit sebelum pelajaran dimulai. Hal ini tentu dinilai sangat efektif, mengingat pola pembiasaan mudah dilakukan pada anak-anak yang masih berusia belia.

Alhamdulillah, kebiasaan ini mulai diterapkan dalam dunia pendidikan kita. Melalui gerakan membaca, beberapa kabupaten/kota yang ada di Indonesia mewajibkan siswanya membaca buku selama 10 menit sebelum memulai pelajaran. Kegiatan yang disebut dengan literasi. Terkadang diselingi dengan guru yang membacakan cerita dengan gaya atraktif.

Dengan mulai membiasakan membaca buku sejak dini, bukan hanya membuka cakrawala pengetahuan lebih luas lagi. Tetapi yang lebih penting adalah pembentukan karakter untuk menghargai ilmu pengetahuan. Sehingga diharapkan akan memunculkan generasi yang memahami adab dalam menuntut ilmu.
“Al adabu fauqol ilmi”
Adab itu diatas ilmu. Yakinlah, jika hal ini berhasil dilaksanakan maka kita tidak akan lagi mendengar guru yang dianiaya oleh murid atau guru dilaporkan ke pihak berwajib oleh orang tua siswa. Maka suasana belajar layaknya yang dialami oleh generasi 80 dan 90 akan kembali tersaji. Mengeja dunia maka akan menaklukkan dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar